Per Hari 200 Tabung Gas Surabaya Rusak

Kompas.com - 20/06/2010, 10:34 WIB

KOMPAS.com — Masih minimnya pengetahuan masyarakat terhadap cara yang benar dalam penggunaan elpiji tampaknya membuat jumlah kerusakan tabung, khususnya ukuran 3 kilogram (kg), cukup tinggi. Di Surabaya saja, selama ini sedikitnya 200 tabung mengalami kerusakan setiap hari.

Sales Representatif Rayon I Gas Domestik PT Pertamina Region IV, Donny Brilianto, mengatakan, selama ini petugas di setiap Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) setiap hari mengeluhkan adanya kerusakan atau kehilangan komponen pada tabung yang akan diisi.

“Di Surabaya ada 5 SPPBE. Jika rata-rata terdapat sekitar 40 tabung rusak di setiap SPPBE, maka total tabung rusak mencapai 200 tabung per hari atau 6.000 tabung per bulan,” kata Donny di Surabaya.

Menurutnya, jenis kerusakan yang terjadi pada tabung bermacam-macam, mulai penyok bekas jatuh atau tertimpa benda, rusak atau bagian pegangan rusak, atau juga rusaknya komponen lain.

Selain itu, meski secara fisik tak ada kerusakan pada tabung, berat tabung tak sesuai dengan standar, yakni 5 kg. Ini juga dikategorikan tak layak. Bahkan, sekitar 80 persen tabung yang masuk untuk diisi gas kehilangan seal atau karet pelindung.

Tak hanya rusak, pihaknya juga sering menemukan tabung elpiji kurang terawat, seperti kotor dan penuh dengan tanah, bahkan hangus bekas terbakar, dan sebagainya.

“Kita tak bisa memastikan kerusakan itu muncul saat di tangan konsumen, pengecer, atau agen. Tabung itu sebetulnya menjadi hak milik konsumen, dan konsumen seharusnya ikut memelihara tabung,” kata Donny yang membawahi wilayah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Pasuruan ini.

Pernyataannya tersebut dikuatkan oleh M Fatchan selaku Manajer SPPBE Gubah Tiara Perkasa Margomulyo. Menurutnya, dari total 20.000 unit tabung elpiji 3 kg yang diisi ulang di tempatnya, sekitar 0,2 persen atau 40 tabung mengalami kerusakan.

“Bahkan, dalam lima bulan terakhir, total tabung 3 kg yang rusak di sini mencapai sekitar 5.000 tabung atau sekitar 1.000 tabung per bulan,” ungkapnya.

Terhadap tabung yang rusak tersebut, pihaknya mengajukan laporan ke Pertamina. Pertamina selanjutnya melakukan penggantian setiap bulannya. Sementara itu, oleh Pertamina, tabung-tabung yang rusak tersebut akan dikirim ke lokasi pengujian ulang. Jika dinilai masih layak, maka tabung tersebut akan digunakan kembali, dan jika tidak, maka tabung akan dilebur.

Assisten Manager External Relations PT Pertamina Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara (Nusra), Eviyanti Rofraidah, mengakui, saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait perawatan dan cara mengidentifikasi tabung yang bocor, cara menggunakan tabung dengan baik, dan cara membersihkannya secara berkala.

“Selain sosialisasi melalui media, kami juga secara berkala melakukan jemput bola, khususnya ke sejumlah area perkampungan masyarakat yang berpotensi terjadi insiden kesalahan dalam penggunaan elpiji,” ulas Eviyanti.

Di Surabaya, lanjutnya, sosialisasi masih dilakukan di empat area di kawasan Surabaya Utara dan Timur. Sosialisasi dilanjutkan ke beberapa kawasan lain di Surabaya, Malang, Madura, dan Bali.

Sementara itu, guna mendukung kebutuhan akan penggantian tabung yang rusak, pihaknya segera membuka dua retester untuk pengecekan ulang tabung elpiji, sekitar akhir tahun ini. Kedua fasilitas retester tersebut berlokasi di kawasan Perak dan Romokalisari, Surabaya.

“Di Surabaya, yang ada saat ini masih fasilitas repainter atau pengecatan saja. Kebutuhan akan pengecekan ulang cukup mendesak,” kata Eviyanti.

Pembangunan retester tersebut menurutnya bukan dilakukan Pertamina, melainkan oleh rekanan dengan nilai investasi sekitar Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar untuk setiap unitnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau