Depok, Kompas
Warga Cinere menilai perbaikan jalan di ruas ini asal-asalan. Mereka memprotes dengan membentangkan spanduk di tepi jalan yang mengalami kerusakan. Namun, spanduk yang berisi protes warga itu beberapa hari kemudian hilang.
”Biar pemerintah baca spanduk itu. Kami mempertanyakan perbaikan jalan itu. Baru diaspal kok sudah rusak. Lihat jalan itu, baru ditambal aspal sekarang sudah bolong,” kata Awang (45), pemilik kios bunga dan koran, Senin (21/6) di Jalan Raya Cinere, Kecamatan Cinere, Depok, Jawa Barat.
Telunjuk jari Awang menunjuk ke jalan di sebelah barat Mal Cinere. Jalan yang baru dilapisi aspal mulai berlubang dan bergelombang. Lokasi Awang berjualan hanya berjarak kurang dari sepuluh meter dari jalan yang berlubang itu.
Awang menilai Pemkot Depok tak memberikan imbal balik yang sepadan dari pajak yang dibayar warga Cinere. Tingginya pajak untuk usaha di sepanjang Jalan Cinere tidak sebanding dengan sarana infrastruktur yang ada. Pemkot Depok seharusnya mengimbangi pungutan ke warga itu dengan memperbaiki jalan yang sudah lama rusak.
”Saya harus bayar pajak tempat usaha Rp 20.000. Ini (pungutan) masih bertambah ketika ada acara pemerintahan, kami diminta menyumbang,” katanya.
Sejauh ini, penambalan jalan baru berlangsung di sekitar Mal Cinere, baik dari arah Jakarta maupun Depok. Sebagian diaspal, sementara sebagian lagi diuruk dengan pasir dan batu.
Di tengah sorotan tajam warga, di sepanjang kawasan Cinere masih terpampang spanduk komitmen pemerintah memperbaiki kerusakan jalan. Salah satu spanduk itu terdapat di Jalan Raya Cinere di simpang Jalan Bandung. Pemkot Depok meminta dukungan warga dalam pembangunan jalan di kawasan ini yang mulai berlangsung 7 Juni. Komitmen serupa juga disampaikan enam pengembang perumahan di kawasan Cinere.
Amit (45), tukang ojek di Jalan Raya Cinere, menginginkan perbaikan jalan sehingga perekonomian di Cinere semakin berkembang. Kerusakan jalan di Cinere mulai parah sejak dua tahun silam karena banyak galian jalan untuk kabel. Seusai digali, perbaikan yang dilakukan kualitasnya asal-asalan sehingga kondisi jalan Cinere semakin memburuk sampai sekarang.
Harapan serupa disampaikan Nurmiati Tampubolon (65), pemilik bengkel mobil di Jalan Raya Cinere. Ia telah melepaskan tanahnya Rp 1,9 juta per meter untuk pelebaran jalan. ”Saya menunggu, sampai sekarang kok belum juga diperbaiki jalannya. Padahal, batas tanah saya sudah mundur enam meter dari tepi jalan,” katanya.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Yayan Ariyanto mengatakan, perbaikan jalan sementara ini baru permulaan. Persoalannya, petugas pelaksana proyek belum bisa memaksimalkan pekerjaan karena terkendala hujan. ”Jika cuaca baik, ruas jalan di Cinere akan segera kami beton,” ujarnya.
Dia memahami reaksi warga saat ini. Namun, dia memohon pengertian warga lantaran faktor cuaca belum mendukung pelaksanaan perbaikan jalan.