Infrastruktur

Jalan Raya Cinere Berlubang Lagi

Kompas.com - 22/06/2010, 04:37 WIB

Depok, Kompas - Pemerintah Kota Depok menuai protes warga setelah dua minggu memperbaiki Jalan Raya Cinere, Kecamatan Cinere. Sejumlah ruas jalan yang baru ditambal kini mulai berlubang lagi. Kawasan bisnis ini pun kembali terkepung buruknya infrastruktur jalan.

Warga Cinere menilai perbaikan jalan di ruas ini asal-asalan. Mereka memprotes dengan membentangkan spanduk di tepi jalan yang mengalami kerusakan. Namun, spanduk yang berisi protes warga itu beberapa hari kemudian hilang.

”Biar pemerintah baca spanduk itu. Kami mempertanyakan perbaikan jalan itu. Baru diaspal kok sudah rusak. Lihat jalan itu, baru ditambal aspal sekarang sudah bolong,” kata Awang (45), pemilik kios bunga dan koran, Senin (21/6) di Jalan Raya Cinere, Kecamatan Cinere, Depok, Jawa Barat.

Telunjuk jari Awang menunjuk ke jalan di sebelah barat Mal Cinere. Jalan yang baru dilapisi aspal mulai berlubang dan bergelombang. Lokasi Awang berjualan hanya berjarak kurang dari sepuluh meter dari jalan yang berlubang itu.

Awang menilai Pemkot Depok tak memberikan imbal balik yang sepadan dari pajak yang dibayar warga Cinere. Tingginya pajak untuk usaha di sepanjang Jalan Cinere tidak sebanding dengan sarana infrastruktur yang ada. Pemkot Depok seharusnya mengimbangi pungutan ke warga itu dengan memperbaiki jalan yang sudah lama rusak.

”Saya harus bayar pajak tempat usaha Rp 20.000. Ini (pungutan) masih bertambah ketika ada acara pemerintahan, kami diminta menyumbang,” katanya.

Sejauh ini, penambalan jalan baru berlangsung di sekitar Mal Cinere, baik dari arah Jakarta maupun Depok. Sebagian diaspal, sementara sebagian lagi diuruk dengan pasir dan batu.

Spanduk komitmen

Di tengah sorotan tajam warga, di sepanjang kawasan Cinere masih terpampang spanduk komitmen pemerintah memperbaiki kerusakan jalan. Salah satu spanduk itu terdapat di Jalan Raya Cinere di simpang Jalan Bandung. Pemkot Depok meminta dukungan warga dalam pembangunan jalan di kawasan ini yang mulai berlangsung 7 Juni. Komitmen serupa juga disampaikan enam pengembang perumahan di kawasan Cinere.

Amit (45), tukang ojek di Jalan Raya Cinere, menginginkan perbaikan jalan sehingga perekonomian di Cinere semakin berkembang. Kerusakan jalan di Cinere mulai parah sejak dua tahun silam karena banyak galian jalan untuk kabel. Seusai digali, perbaikan yang dilakukan kualitasnya asal-asalan sehingga kondisi jalan Cinere semakin memburuk sampai sekarang.

Harapan serupa disampaikan Nurmiati Tampubolon (65), pemilik bengkel mobil di Jalan Raya Cinere. Ia telah melepaskan tanahnya Rp 1,9 juta per meter untuk pelebaran jalan. ”Saya menunggu, sampai sekarang kok belum juga diperbaiki jalannya. Padahal, batas tanah saya sudah mundur enam meter dari tepi jalan,” katanya.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Yayan Ariyanto mengatakan, perbaikan jalan sementara ini baru permulaan. Persoalannya, petugas pelaksana proyek belum bisa memaksimalkan pekerjaan karena terkendala hujan. ”Jika cuaca baik, ruas jalan di Cinere akan segera kami beton,” ujarnya.

Dia memahami reaksi warga saat ini. Namun, dia memohon pengertian warga lantaran faktor cuaca belum mendukung pelaksanaan perbaikan jalan. (NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau