BADHDAD, KOMPAS.com - Polisi antihuru-hara terpaksa menggunakan semprotan air, Senin (21/6), untuk membubarkan kerumunan warga yang marah karena pemadaman listrik yang berkepanjangan di kota Nasiriyah, bagian selatan Irak.
Suhu yang panas saat ini di sekitar Irak membuat penggunaan listrik melampaui kapasitas yang tersedia.
Aksi protes sekitar 1.000 warga di kota Nasiriyah itu terjadi dua hari setelah aksi protes serupa, yang kemudian berubah menjadi aksi kekerasan, menewaskan dua orang dan dua lainnya cedera setelah polisi melepaskan tembakan di Basra.
Pertikaian fisik sempat terjadi ketika sejumlah demonstran berusaha memasuki gedung Dewan Provinsi. Pemrotes juga melemparkan batu dan tongkat kayu sambil menyerukan agar Menteri Perlistrikan Irak mundur.
Kerusuhan itu telah meningkatkan kekhawatiran semakin meningkatnya kemarahan publik karena tidak tersedianya fasilitas umum dasar, dan hal itu bisa menghancurkan upaya untuk menstabilkan Irak.
”Kami akan meneruskan demonstrasi-demonstrasi ini sampai tuntutan kami dipenuhi. Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Irak untuk menggelar demonstrasi untuk revolusi perlistrikan ini,” kata Basil Sabah (40), seorang pegawai pemerintah di direktorat pendidikan, yang ikut serta dalam demonstrasi di hari kedua itu.
Juru bicara kementerian perlistrikan, Musab al-Mudaris, menyalahkan ketiadaan listrik itu kepada pejabat-pejabat Nasiriyah dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya.
Dia menolak berkomentar terhadap tuntutan agar Menteri Perlistrikan Karim Waheed mengundurkan diri.
Kirim tim Perdana Menteri Nouri al-Maliki mengirim sebuah tim ke Basra, kota terbesar kedua Irak yang berada 550 kilometer di selatan Baghdad, setelah terjadinya demonstrasi mematikan pada Minggu (20/6).
Rival politik Al-Maliki, mantan Perdana Menteri Ayad Allawi, mengatakan bahwa aksi protes Basra itu merupakan aksi spontan untuk menyuarakan kekecewaan mereka. Dia menyerukan kepada pasukan keamanan Irak untuk menahan diri. ”Sangat disayangkan, apa yang terjadi membentuk sebuah tanda hitam dalam perjalanan Irak menuju kemakmuran dan pembangunan, juga konstruksi dan stabilitas,” kata Allawi, yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta, Al-Sharqiyah.
Tujuh tahun setelah invasi pimpinan AS, badan perlistrikan Irak hanya mampu menyuplai listrik beberapa jam saja ke tiap-tiap rumah. Hal itu membuat biaya untuk melakukan usaha semakin mahal. Terlebih lagi saat ini suhu udara sangat panas, mencapai 50 derajat celsius di siang hari.
Basra dan kota-kota di selatan Irak yang kaya minyak merasa dianaktirikan karena banyak warga Irak di bagian selatan ini yang hidupnya miskin. Banyak dari warga juga tidak mempunyai perangkat pendingin udara ataupun kipas angin.
Khawatir akan terjadinya aksi protes lebih besar, tentara pemerintah meningkatkan keamanan di sekitar gedung-gedung pemerintah di Nasiriyah, yang merupakan salah satu basis kuat pengikut ulama anti-AS, Moqtada al-Sadr.
Frustrasi di kalangan rakyat Irak semakin memuncak akibat kegagalan para politisi Irak membentuk sebuah pemerintahan baru, lebih dari tiga bulan setelah pemilihan parlemen. Akibatnya, tugas-tugas pemerintah pun tak berjalan baik. (AP/Reuters/OKI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang