Piala dunia 2010

Dukun Hitam Lawan Dukun Putih

Kompas.com - 22/06/2010, 10:03 WIB

KOMPAS.com — Kalau teknis ditolak, dukun bertindak! Begitu kira-kira sikap dan tekad beberapa tim Afrika saat persiapan bersepak bola di Afrika Selatan. Pada hari-hari babak penyisihan ini, perhatikan baik-baik semua tim hitam Afrika—dari Aljazair sampai Afrika Selatan—apakah ada perilaku aneh? Misalnya, membawa masuk lelaki berpakaian aneh, lalu komat-kamit dan buang-buang benda dengan gerak-gerik mencurigakan.

Kejadian ini pasti tidak akan terjadi karena panitia jauh-jauh hari sudah bersikap dan mengeluarkan larangan, semua tim harus bertanding fair dan menghormati aturan main. Selain pelatih dan asisten, petugas P3K, dan pengurus teras, tidak ada yang diizinkan duduk di bangku cadangan di pinggir lapangan. Demikian juga sesudah pertandingan dan sebelum perlagaan, stadion harus disterilkan untuk mencegah hal-hal buruk terjadi.

Dukun dalam konsep sistem kepercayaan masyarakat Afrika masih kental, dan ”Benua Hitam” ini dituduh-tuduh bakalan memanfaatkan black power supaya tendangan dan sundulannya bisa bikin gol dan gol. Untuk itu, beberapa media sudah membuat cerita seram soal takhayul, dukun santet, black power, dan black magic. Padahal, di dalam negeri sendiri, soal dukun dan santet-santetan sudah jamak. Soal asmara saja, ada pemeo: ”cinta ditolak, dukun bertindak”.

Kembali ke soal dukun, ulasan panjang African soccer bercerita betapa serunya campur tangan ilmu hitam dalam sepak bola Afrika. Selain jimat organ tubuh binatang yang seperti geraham tengkorak monyet, gigi gajah, tulang singa, minyak gajah, buah zakar macan tutul, bulu kuda nil, dan lainnya, tim sepak bola di Afrika juga suka sekali menggunakan jasa dukun atau ”orang pintar”.

Contoh dukun sakti dari Senegal. Konon dukun ini mengaku kemenangan tim Perancis dalam Piala Dunia 1998 di Paris berkat jampi dan doa-doanya mendukung kesaktian tim Perancis keturunan Afrika, seperti Zinedine Yazid Zidane, Thierry Henry, dan Marcel Desailly. CAF sebagai organisasi sepak bola Afrika dianggap rasis sekali sebab mereka melarang dukun ikut ke stadion, sementara pemain Eropa dibolehkan membawa rohaniwan, lalu berdoa dan membuat tanda salib.

Dukun di Afrika katanya menerima honor sampai ribuan dollar AS. Juga dukun yang mengawal spiritual tim, kini ruang gerak dan rezekinya sudah dipepet nyaris mampet. Pasalnya, tim ”Gajah”, Pantai Gading, dengan Didier Drogba dan Kolo Toure cs yang dijagokan tampil ke final kenyataannya mendapat Pelatih Sven-Goran Ericksson asal Swedia yang kulit putih. Ericksson sebagai ”dukun putih” itu benar-benar melatih keras agar ”gajah-gajah” Afrika itu membuktikan permainan yang hebat, tetapi tanpa doa dan jimat ”dukun hitam”.

Pelatih atau coach yang dibayar mahal memang gabungan ”guru olahraga, pehipnotis, motivator, tukang kompor, dan fasilitator”. Namun jangan dilupakan, pelatih, yang biasanya berusia senior dan mantan pemain juga, biasanya juga kambing hitam tim asuhannya. Pelatih sebagai orang bayaran sebenarnya juga kaki tangan manajemen organisasi sepak bola itu sendiri.

Ericksson yang intelek dan bergaya selebriti tentu saja harus bekerja keras menempa mental pemain Pantai Gading agar benar-benar siap bermental juara atau paling tidak bermental siap jadi juara. Pasalnya, menurut pakar pengamat bola, pemain seperti Drogba, misalnya, sudah punya kemampuan teknik, fisik, dan skill. Namun, kenyataannya, runner-up Piala Afrika 2010 ini ternyata tidak atau hanya sedikit memiliki dukungan psikologis untuk menjadi juara.

Semangat dan motivasinya sebagai pemain klub di luar Afrika berbeda dengan semangatnya ketika membela nama negara masing-masing. Juga perasaan ikut campurnya dukun sebagai ”pelatih” black magic power, di suatu sisi memang memberi efek, ada imbasnya. Kehadiran dukun dengan jampi dan jimat pusakanya paling tidak ikut mendukung kejiwaan pemain itu. Secara psikologis, pemain merasa dikawal dukun sehingga mereka tidak mempan disantet dan jadi bodoh dan loyo.

Sebetulnya kondisi ini sudah diketahui ”dukun coach” yang disewa beberapa tim Afrika. Ericksson katanya cukup optimistis kalau klub yang menyewanya bakalan berperan di arena Piala Dunia di Afrika Selatan. Soalnya, ini umpamanya, ya umpama saja, apabila nanti Pantai Gading masuk final, Ericksson pasti bersemangat gede-gedean. Ya benar hal itu tidak mungkin karena Swedia kan tidak ikut main di Afsel. Amanlah rasa Ericksson yang dukun putih, wuih. (RUDY BADIL, Wartawan Senior)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau