JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memprioritaskan pembangunan lima Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru hingga 2014. Pembahasannya mengerucut pada usulan bahwa KEK harus ditumbuhkan dengan basis komoditas unggulan.
"Berbasis produk unggulan. Kalau kluster sawit, ya sawit rumpunnya," tutur Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Selasa (22/6/2010).
Hatta mengatakan penyebaran lima KEK merata di bagian barat, tengah dan timur Indonesia. Evaluasi akan dilakukan di awal untuk menentukan komoditas unggulan di wilayah yang akan ditetapkan sebagai KEK.
Pada dasarnya, lanjut Hatta, semua wilayah memiliki potensi unggulan, misalnya Jawa yang berbasis manufaktur, Sumatera berbasis minyak bumi dan mineral, atau kawasan timur yang berbasis energi dan pertanian.
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad juga mendorong hal yang serupa. Menurutnya, daerah akan mudah maju jika pemerintah pusat terlebih dahulu memahami produk unggulan di masing-masing wilayah saat ingin menetapkannya sebagai KEK.
"Saya pengalaman delapan tahun jadi gubernur, kita gubernur kita ketawain mereka di pusat karena enggak ada komoditasnya, ya enggak bisa berkembang. Jadi sekarang KEK apa komoditasnya? Oke kita jadi bisa kembangkan KEKnya," ungkapnya.
Karena kesalahan perencanaan di awal ini, Fadel mengungkapkan ada beberapa daerah yang diprogramkan dalam Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) terkesan setengah jadi. Mati tak mau, maju juga tidak. "Enggak boleh mengembangkan daerah tanpa ada penghelanya. Coba lihat beberapa KAPET sekarang. Mati tak mau, jalan pun sulit. Tak ada komoditasnya supaya cepat tumbuh," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang