"Bela-Belain" Begadang demi Jagoan

Kompas.com - 22/06/2010, 11:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan telah menyihir manusia di jagat raya. Tak pandang derajat, golongan, atau jabatan, siapa pun pasti tidak melewatkan setiap pertandingan, termasuk para direksi perusahaan otomotif nasional. Mereka bela-belain begadang menonton pertandingan meski pagi sampai sore sudah disibukkan dengan rutinitas.

"Saya dukung tim Italia. Sekalipun 'Gli Azzurri' bertanding pukul 01.00 (WIB), pasti saya nonton. Bela-belain, deh," ujar Amelia Tjandra, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor, menjawab Kompas.com, baru-baru ini.

Alasan Amelia menonton bola cukup unik. Selain karena pemain Italia yang dianggapnya berwajah ganteng, ia menonton karena tak ingin ketinggalan mengikuti topik pembicaraan. "Dunia saya kan dikelilingi pria dan mereka pasti gemar bola. Untuk itu saya usahakan nonton supaya nyambung kalau diajak ngobrol," paparnya.

Senada dengan Amelia, Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan juga tak mau ketinggalan mengikuti pertandingan tim favoritnya. Dalam piala dunia kali ini, Johnny memprediksi tiga tim akan berpotensi besar menuju final, yakni Brasil, Argentina, dan Belanda.

"Tiga tim ini berpotensi, tapi saya paling suka Brasil. Kalau bela-belain nonton paling weekend aja, kalau hari kerja biasanya sudah tidur duluan," ujar Johnny.

Meski rela begadang menonton pertandingan dini hari, baik Johnny maupun Amelia merasa hal itu tak mengganggu rutinitas pekerjaannya. "Kita tetap harus profesional dalam bekerja dan tak boleh terpengaruh apa pun," ungkap Johnny.

Cinta Jerman Sementara itu, Presiden Direktur PT Hyundai Mobil Indonesia (HMII) Jongkie D Sugiarto mengaku akan selalu mendukung Jerman dalam setiap kompetisi. Padahal, dia sekarang memasarkan produk Korea Selatan.

Tim nasional Jerman, menurut Jongkie, selalu menjadi spesial karena selama lima tahun (1968-1972) ia mengemban pendidikan di negara "Tim Panser" itu. Setiap akhir pekan, pada waktu petang, Jongkie bersama teman-temannya selalu menyaksikan tim Bayern Munchen dan TSV 1860 Munchen yang menjadi idola di kota tersebut.

"Pasti Jerman-lah. Karena saya pernah di sana, jadi banyak memorinya. Di samping timnas (tim nasional) Indonesia tentunya," aku Jongkie. Menurut dia, kalau dulu adalah zaman Franz Beckenbauer, sekarang ini Klose, Podolski, dan Ballack. "Saya tahu, tahun ini kalau ada Jerman biasanya saya nonton," tambah Jongkie.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau