Oleh Aris Prasetyo
Siapa yang tidak kenal klub sepak bola Persebaya Surabaya? Jumat, 18 Juni 2010, adalah hari ketika klub kebanggaan arek-arek Surabaya ini genap berusia 83 tahun. Sebuah perjalanan panjang dengan segudang prestasi dan kontroversi yang terus menyelimuti.
Sore itu, puluhan anak yatim piatu duduk berkumpul di sebuah ruangan di mes Persebaya. Mereka tunduk mendengarkan ceramah dari seorang ustaz dan berdoa bersama hadirin lain di ruang itu. Di tengah ruangan terhampar nasi tumpeng dan semacamnya. Selain anak yatim piatu, beberapa pengurus Persebaya dan klub internal PSSI Surabaya juga menghadiri perayaan itu.
Puncak peringatan ulang tahun itu ditandai pemotongan nasi tumpeng oleh mantan Manajer Persebaya Saleh Ismail Mukadar. Potongan tumpeng diberikan kepada salah satu anak yatim piatu. Tidak lupa doa terucap agar Persebaya keluar dari segala persoalan yang membelit akhir-akhir ini.
"Doa anak yatim piatu kan makbul (selalu dikabulkan Tuhan). Kami berharap pada peringatan ini Persebaya dikeluarkan dari segala masalah yang tengah membelit tim ini," kata Saleh seusai acara itu.
Semua pencinta Persebaya tentu sangat berharap status mereka di Liga Super Indonesia segera jelas. Lihat saja di klasemen musim 2009/2010. Dari 18 peserta liga, seharusnya setiap tim merampungkan laga sebanyak 34 kali. Namun hingga Arema Malang dinyatakan sebagai jawara liga, Persebaya dan Persik Kediri sama-sama mencatatkan 33 pertandingan. Persebaya berada di posisi ke-16 dengan 36 poin atau sama jumlahnya dengan Persik yang berada di posisi ke-17.
Berdampak pada tim
Awan gelap yang menyelimuti tim "Bajul Ijo" ini bermula ketika laga Persik versus Persebaya di Kediri akhir April lalu batal karena tidak mendapat izin polisi. Laga yang dipindahkan ke Yogyakarta pun bernasib serupa. Komisi Disiplin PSSI lantas menghukum Persik dengan kekalahan 0-3 dan denda Rp 25 juta. Artinya, Persebaya mengantongi tiga poin tanpa bertanding.
Namun, Persik mengajukan banding yang dikabulkan Komisi Banding PSSI. Mereka menghendaki laga ulang melawan Persebaya. Upaya itu ditolak mentah-mentah Persebaya karena keputusan yang dikeluarkan Komisi Disiplin PSSI tidak bisa dilakukan banding. Persebaya berkukuh harus melakoni playoff melawan Persiram Raja Ampat, tim Divisi Utama, untuk berebut satu tiket ke Liga Super Indonesia musim depan.
PSSI pun tidak kunjung menentukan sikap. Saleh menuding ada permainan di balik masalah yang tengah membelit tim ini. Ia pun mengundurkan diri sebagai manajer dan digantikan I Gede Widiarde. Situasi tersebut tentu saja berdampak pada tim. Pemain Persebaya seperti berada dalam ketidakpastian. Waktu seusai kompetisi, yang seharusnya bisa dipakai berlibur, terpaksa diisi dengan hari-hari penantian.
Lihat saja ucapan Gede. Tidak jelasnya nasib Persebaya membuat pihak manajemen mengeluarkan biaya ekstra. Biaya itu untuk membayar gaji dan akomodasi pemain serta pelatih, yang sebetulnya kontrak mereka habis bulan ini. Sikap PSSI yang ditunggu-tunggu pun tidak kunjung keluar.
"Kami tidak tahu apa yang menyebabkan mereka (PSSI) tidak segera bersikap. Tentu saja kami tetap berharap Persebaya menjalani playoff melawan Persiram untuk menjaga peluang di Liga Super Indonesia. Tim sekelas Persebaya tidak layak jika berlaga di Divisi Utama," katanya.
Boleh jadi Persebaya memang tidak layak untuk bertanding di Divisi Utama yang satu tingkat di bawah Liga Super Indonesia. Apalagi, Kota Surabaya tengah giat menyediakan sarana olahraga bernama Surabaya Sport Center, yang di dalamnya terdapat Stadion Gelora Bung Tomo. Stadion ini diklaim yang terbaik setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Kini, Persebaya kembali dibayang-bayangi ancaman terdegradasi ke Divisi Utama. Tentu saja Persebaya tidak menginginkan hal itu sebagai kado ulang tahun ke-83 mereka. Masa depan menjadi tidak pasti akibat ketidakbecusan PSSI mengurusi sepak bola.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang