Kematian tragis pasangan suami istri asal Jepang, Yasuo Hara (69) dan Mizue Hara (67), yang tewas dibunuh di Tangerang Selatan masih menyisakan duka mendalam bagi anak-anaknya. Akan tetapi, tragedi itu tidak memengaruhi kecintaan keluarga Hara terhadap Indonesia, sama seperti kecintaan kedua orangtua mereka terhadap negeri ini.
Dalam sebuah pernyataan keluarga yang dikirimkan melalui surat elektronik kepada Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri dan diteruskan kepada redaksi Kompas, Selasa (22/6), putra-putri keluarga Hara: Yuichiro, Chisato, dan Mizuho, menuturkan, orangtua mereka sangat mencintai Indonesia dan jelas bahwa Indonesia mencintai mereka.
”Kami, anak-anak mereka, juga mencintai Indonesia. Masih tetap begitu. Tragedi yang menimpa kami tidak memengaruhi apa yang kami rasakan tentang negara yang indah ini dan orang-orangnya,” kata Yuichiro Hara atas nama keluarganya.
Yasuo dan Mizue tewas dibunuh mantan tukang kebun mereka, Asep, di rumah mereka, Kamis pekan lalu. Yazuo tewas dengan empat luka tusuk di bagian dada, sementara istrinya mengalami luka sabetan benda tajam di bagian perut dan leher.
Menurut keterangan Asep kepada polisi, dia dan temannya, Iwan, bermaksud mencuri di rumah keluarga Hara. Mereka kepergok, lalu membunuh pasangan suami istri dan melukai pembantu mereka, Hadi Kuswoyo. Asep dan Iwan telah ditangkap polisi dan terancam hukuman lebih dari 15 tahun penjara.
Yasuo lahir pada 23 November 1940 di Tokyo dan Mizue lahir pada 11 Maret 1943 di Prefektur Kanagawa. Keduanya menikah pada 4 Oktober 1968.
Tahun 1977, keluarga itu pindah ke Amerika Serikat di mana Yasuo, lulusan Sophia University dengan bidang bahasa Spanyol, dipindah ke Houston, Texas, untuk membuka kantor perwakilan Satake Inc, sebuah perusahaan pembuat dan penyalur mesin penggiling dan pemroses padi.
Tahun 1986, keluarga Hara pindah ke Jakarta di mana Yasuo membuka kantor perwakilan. Dia bekerja membangun usaha bersama Jepang-Indonesia guna membantu mengembangkan sektor pertanian Indonesia sampai pecah krisis politik dan ekonomi tahun 1998.
Yasuo mengajukan pensiun dini dari perusahaannya dan mencari pekerjaan lain yang memungkinkan dia dan istrinya tetap tinggal di Indonesia dan berkontribusi bagi budaya Indonesia. Kesempatan itu tiba tahun 2000 saat dia menjadi Direktur Urusan Kebudayaan pada Jakarta Japanese School (JJS).
Selama tiga tahun berikutnya, Yasuo bekerja mengembangkan hubungan JJS dengan komunitas, pelajar, dan sekolah lokal di sekitarnya. Dia juga mendorong siswa dan guru JJS untuk belajar tentang sejarah, budaya, dan masyarakat Jepang.
Seperti sang suami, Mizue juga aktif dalam berbagai organisasi masyarakat, seperti Women’s International Club, Indonesian Heritage Society, dan International Community Activity Center (ICAC). Mizue mempelajari kekayaan budaya Indonesia dan membangun hubungan dekat dengan Museum Nasional.
Mizue menemukan panggilannya dalam Program Beasiswa Pembangunan Kepemimpinan ICAC, yang hingga Oktober 2009 telah memberikan beasiswa bagi 540 mahasiswa Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor.
Saat kontrak Yasuo di JJS berakhir tahun 2003, mereka memutuskan untuk menghabiskan masa tua di Indonesia, negeri yang memberi mereka tujuan hidup. Yasuo dan Mizue bermaksud merayakan 25 tahun hidup di Indonesia pada 26 Januari 2011. Namun, cita-cita itu tidak pernah akan terwujud.
Banyak pihak merasa kehilangan dengan kematian pasangan suami istri itu. Warga sekitar mengenal Yasuo dan Mizue sebagai orang yang baik.
”Yasuo dan Mizue menyentuh hidup banyak orang, baik di Indonesia maupun di dunia. Kami memohon kepada Anda sekalian untuk mengenang orangtua kami seperti saat mereka masih hidup dan merayakan orang-orang hebat seperti mereka,” ujar anak-anaknya.(FRO)