Timur tengah

Netanyahu Mengakui Blokade Gaza Gagal

Kompas.com - 24/06/2010, 04:50 WIB

Kairo, Kompas - PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan, memperlonggar blokade Gaza merupakan keputusan terbaik yang diambil Israel saat ini.

”Keputusan pemerintah adalah mencabut blokade sipil dan memperkuat blokade militer melalui koordinasi dengan AS dan utusan khusus kuartet perdamaian Tony Blair, serta pemerintah negara lain,” ungkap Netanyahu di forum sidang kabinet terbatas soal keamanan dan luar negeri, Senin (21/6) di Jerusalem.

Ia menegaskan, itu merupakan keputusan terbaik karena akan menggagalkan propaganda Hamas serta, ”Memberi dalih kepada kami dan sahabat-sahabat kami di dunia ini untuk sepakat tentang tuntutan kami soal keamanan.”

Minggu malam lalu, Netanyahu telah mengakui blokade Gaza gagal. ”Blokade sipil adalah keliru dan kami memutuskan untuk menghentikan. Namun, blokade militer untuk mengamankan pantai-pantai kami tetap berlanjut,” tegasnya.

Menteri Lingkungan Hidup Israel Gilad Erdan dari partai Likud juga mengatakan, aksi blokade Gaza secara total pasca-Hamas mengambil alih kekuasaan secara penuh di Jalur Gaza pada Juni 2007 tidak membawa hasil positif pada Israel.

Ia menambahkan, isu armada kapal kemanusiaan dan tekanan internasional telah mempercepat mengambil keputusan soal pencabutan blokade Gaza.

Israel, Minggu, memutuskan mengizinkan semua komoditas sipil masuk ke Gaza, kecuali senjata dan bahan yang terkait dengan militer. Namun, otoritas Palestina pimpinan Presiden Mahmoud Abbas dan Hamas masih menganggap belum cukup keputusan Israel itu.

Sementara itu di New York, Menhan Israel Ehud Barak meminta PBB membekukan rencana melakukan penyidikan independen dengan sponsor PBB terhadap kasus serangan militer Israel atas konvoi kapal misi kemanusiaan 31 Mei lalu yang menewaskan 9 warga Turki dan puluhan aktivis luka-luka.

”Untuk saat ini dan selagi masih ada armada kapal yang sedang dipersiapkan berlayar, lebih baik PBB meninggalkan dulu sementara waktu untuk melakukan penyidikan independen,” ujar Barak seusai bertemu Sekjen PBB Ban Ki-moon hari Senin.

Menurut Barak, komite penyidik yang dibentuk Israel beranggotakan lima personel, di antaranya dua warga asing, sudah cukup untuk saat ini.

Ia menambahkan, ”Kami telah bergerak maju melakukan penyidikan independen yang kami yakin bahwa itu independen, memiliki kredibilitas, dan bisa dijadikan sandaran serta berikan izin untuk terus bekerja.”

Harian Asharq Al Awsat edisi Selasa mengungkapkan, ada perundingan rahasia antara Benjamin Netanyahu, Pemimpin Partai Kadima yang beroposisi Tzipi Livni, dan Menhan Ehud Barak yang juga Ketua Partai Buruh untuk melibatkan partai Kadima dalam koalisi.

Menurut harian berbahasa Arab yang terbit di London dan Jeddah itu, jika perundingan berjalan lancar, Livni akan ditunjuk sebagai menlu menggantikan Avigdor Lieberman yang juga Ketua Partai Yisrael Beiteinu.

Netanyahu juga telah bertemu Ketua Komite Luar Negeri dan Keamanan Knesset, Tzachi Hanegbi, yang berasal dari partai Kadima, untuk membahas kemungkinan pembentukan pemerintah persatuan dengan melibatkan partai Kadima.

Menurut Netanyahu, yang terbaik saat ini membentuk pemerintah persatuan nasional melibatkan partai Kadima untuk menyelamatkan posisi Israel yang sedang sangat sulit di pentas internasional pascainsiden Flotilla Gaza, akhir Mei lalu.

Sejauh ini jubir Netanyahu maupun Livni belum memberi komentar tentang bocoran berita soal perundingan rahasia Netanyahu-Livni itu. (mth)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau