Nelayan Tidak Melaut

Kompas.com - 24/06/2010, 11:27 WIB

GUNUNG KIDUL, KOMPAS - Semua nelayan di pantai selatan Gunung Kidul berhenti melaut karena angin kencang dan ketinggian ombak mencapai 5 meter. Lebih dari 300 nelayan bersandar di pelabuhan sambil menunggu cuaca aman. Musim panen ikan tuna terlewati.

Rabu (23/6), data dari satelit global positioning system (GPS) menunjukkan, ketinggian ombak di 9 derajat lintang selatan mencapai 4 meter, sedangkan ketinggian ombak di 10 derajat lintang selatan naik menjadi 5 meter. Kecepatan angin berkisar 15-18 knot. Nelayan baru bisa melaut jika ketinggian ombak sekitar 2 meter dengan kecepatan angin di bawah 10 knot.

Nelayan dari Banjar, Jawa Barat, Roni, mengatakan, kondisi cuaca buruk seperti kali ini biasanya berlangsung satu pekan. Nelayan biasanya hanya mencari ikan pada jarak sekitar 27-40 mil sebelum kembali berlabuh. "Baru mau masuk musim panen ikan tuna dari Juni hingga November, tetapi tidak bisa melaut karena cuaca buruk," kata Roni.

Akibat sedikitnya jumlah nelayan yang melaut, harga ikan tuna di Pelabuhan Sadeng turun. Pedagang merugi karena jumlah ikan yang dikirim tidak sepadan dengan biaya transportasi.

Tiap kilogram baby tuna hanya dihargai Rp 8.000 per kilogram dari biasanya Rp 12.000. Harga ikan tuna besar Rp 23.000 per kilogram. Mayoritas ikan tuna dari Pelabuhan Sadeng dikirim untuk pasar ekspor.

Tiap kali melaut, tiap kapal dengan lima nelayan bisa mendapat Rp 30 juta yang separuhnya diserahkan untuk pemilik kapal. Subur, juragan kapal dari Pasuruhan, mengaku rugi karena nelayan tidak melaut. Padahal, ia tetap menyediakan perbekalan bagi nelayan, termasuk membayar uang indekos ketika nelayan berlabuh.

Nelayan dari Malang, Jawa Timur, Lin, dan semua rekannya hanya menunggu cuaca membaik sambil memperbaiki kapal dan jaring. Jika dalam sepekan mendatang angin dan ombak tidak kunjung mereda, Lin akan nekat melaut karena tergiur panenan ikan tuna.

Banyaknya kapal yang berlabuh di Pantai Sadeng mendatangkan rezeki tambahan bagi penguras kapal. Penguras kapal seperti Samino dan Sukarmin mengaku setiap hari mendapat permintaan membersihkan kapal dengan ongkos sekitar 10 persen dari hasil penjualan panenan ikan.

Di Pantai Baron, Gunung Kidul, nelayan juga tidak berani melaut karena tingginya ombak. Nelayan dengan jungkung di Pantai Baron lebih memilih bekerja di ladang sambil menunggu cuaca reda. Tangkapan jungkung berbobot sekitar 15 Pk tidak begitu menjanjikan dengan panenan ikan campur yang terdiri atas ikan tongkol, ikan sebelah, dan ikan kakap seharga Rp 7.000 per kilogram. (WKM)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau