Iran Bangun 200.000 Rumah di Desa dan 1,2 Juta di Kota

Kompas.com - 24/06/2010, 17:14 WIB

SOLO, KOMPAS.com - Menteri Perumahan dan Perkotaan Republik Islam Iran Ali Nikzad, menyatakan bahwa negaranya siap berbagai pengalaman dengan negara-negara Asia Pasifik yang hadir dalam Komprensi Asia Pacific Ministerial Conference on Housing And Urban Development (APMCHUD) di Solo, Jawa Tengah untuk berbagai pengalaman dalam pembangunan perumahan perkotaan.

"Iran telah berhasil melaksanakan pembangunan perumahan sebanyak 200 ribu unit di pedesaan dan 1,2 juta di perkotaan," kata Menteri Perumahan dan Perkotaan Republik Islam Iran Ali Nikzad dalam pembukaan Konprensi APMCHUD yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, Kamis.

Untuk melaksanakan pembangunan perkotaan dan perumahan yang berkelanjutan ini diperlukan berbagai persiapan yang matang, untuk menata kawasan, permodalan dari perbankan dan lain-lain.

Direktur Eksekutif UN-Habitat Dr Anna Tibaijuka, mengatakan pembangunan berkelanjutan sangat penting dan ini diharapkan oleh semua rakyat. Pembangunan perkotaan di kawasan Asia Pasifik sampai saat ini masih lemah dan ini terjadi pada negara-negara berkembang.

"Kami sangat menghargai Solo yang menjadi tuan rumah APMCHUD telah melaksanakan pembangunan kota hijau. Maka kami pun juga mengikutkan kota ini bergabung dengan 100 kota di Asia Pasifik untuk ikut kampenye masalah pembangunan ini. Kami juga memberikan penghargaan kepada Indonesia untuk pusat penelitian dalam masalah tersebut," ujarnya. Untuk menyatukan 29 negara bukan hal yang mudah dan ini mewakili setengah peredaran manusia yang ada di dunia.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dalam cara tersebut mengatakan masalah urbanisasi merupakan hal yang positif, tetapi juga bisa negatif. Adanya urbanisasi ini membawa dampak negatif yang bisa menimbulkan masalah perkumuhan perkotaan, kepadatan penduduk, menurunnya kesehatan, kehidupan yang kurang baik dan lain-lain.

Banyaknya urbanisasi ini juga akan memberikan kesenjangan hidup, dan ini perlu penanganan tersendiri. Untuk perkotaan di Pulau Jawa pada umumnya sudah padat penduduknya.

Untuk mengurangi urbanisasi maka pemerintah telah mendorong pembangunan di pedesaan dan melakukan penciptaan lapangan kerja serta menfaatkan potensi ungulan di daerah-daerah untuk bisa memberikan nilai tambah ekonomi.

Wakil Ketua I Panitia Pelaksana Nasional APMCHUD 3 Budi Yuwono mengatakan untuk konprensi AMPCHUD ini berlangsung dari tanggal 22 sampai 24 Juni 2010 di Solo, Jawa Tengah dihadiri para delegasi dari 30 negara yang terdiri 14 Menteri dan 85 pejabat tinggi dari negara-negara di Asia Pasifik. Hadir dalam acara tersebut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Negara Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, dan para tamu undangan lainnya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau