Wali kota jakarta barat:

Wisata Malam Kota Tua Dihentikan

Kompas.com - 25/06/2010, 10:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Wali Kota Jakarta Barat Djoko Ramadhan akhirnya memutuskan, Wisata Malam Kota Tua atau WMKT tak diperpanjang. Panitia harus segera membongkar tenda yang berjejer di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara.

Keputusan itu diambil saat rapat di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Rabu (23/6/2010). Dalam waktu tiga hari ke depan, kawasan Jalan Pintu Besar Utara harus sudah bersih dari tenda berwarna merah dan hijau milik WMKT.

Asisten Perekonomian Wali Kota Jakarta Barat, Hariyanto, Kamis (24/6/2010), mengatakan, WMKT tidak diperpanjang lagi. Tenda harus segera dibongkar. "Surat pembongkaran sedang kami bikin. Kami beri waktu tiga hari untuk bongkar tenda," katanya.

Menurut Hariyanto, seharusnya kontrak selesai pada 8 Juni lalu. Namun, Pemkot Jakarta Barat menggelar evaluasi sebelum memutuskan WMKT tidak diperpanjang.

WMKT yang berisi tenda kuliner dinilai tidak mengikuti kesepakatan yang dibikin antara Wali Kota Jakarta Barat dan Paguyuban Kota Tua Seksi Taman Fatahillah dan Kalibesar Timur. Kesepakatan yang dilanggar antara lain terkait jam buka-tutup.

Hariyanto mengatakan, jam buka warung tenda Senin-Kamis pukul 16.00-24.00. Adapun Jumat-Minggu pukul 10.00-24.00. "Tapi kenyataannya jam buka tidak sesuai perjanjian," ujarnya.

Di sekitar lokasi, warung tenda itu sudah buka sejak sekitar pukul 11.00. Kesepakatan lain yang dilanggar adalah jenis tenda yang seharusnya bongkar-pasang. Pada kenyataan di lapangan, tenda itu tetap berdiri di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara sepanjang hari sejak dimulainya WMKT.

Harus membayar

Selain pelanggaran jam buka-tutup waktu berdagang, dan jenis tenda yang digunakan, juga ditemukan adanya penarikan biaya terhadap para pedagang.

Pedagang diharuskan membayar Rp 5 juta untuk mendapat tempat di WMKT. Setiap bulannya tiap pedagang juga harus membayar lagi Rp 2,5 juta.

Hal itu dikeluhkan sejumlah pedagang. Pasalnya, harga sewa tempat itu sangat mahal, tak sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang.

"Mereka lebih memilih di kaki lima karena harga lebih murah. Berat buat pedagang tenda di sini," ujar pedagang yang enggan disebut jati dirinya.

Keluhan juga datang dari para penggemar fotografi. Mereka menyesalkan keberadaan warung tenda yang menutupi penampilan gedung-gedung bersejarah di kawasan itu.

Pemandangan dari ujung ke ujung di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara dan Kalibesar Timur 3 menjadi penuh dengan warung tenda dan pedagang kaki lima.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Arie Budhiman mengatakan, untuk sementara waktu WMKT dihentikan, dan belum ada rencana menggantinya dengan program lain. Sementara itu, Djoko Ramadhan menyatakan, wisata malam hendaknya digelar di luar Taman Fatahillah.

"Hidupkan juga Kali Besar. Jangan hanya di situ-situ saja," kata Djoko. (pra)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau