JAKARTA, KOMPAS.com — Wali Kota Jakarta Barat Djoko Ramadhan akhirnya memutuskan, Wisata Malam Kota Tua atau WMKT tak diperpanjang. Panitia harus segera membongkar tenda yang berjejer di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara.
Keputusan itu diambil saat rapat di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Rabu (23/6/2010). Dalam waktu tiga hari ke depan, kawasan Jalan Pintu Besar Utara harus sudah bersih dari tenda berwarna merah dan hijau milik WMKT.
Asisten Perekonomian Wali Kota Jakarta Barat, Hariyanto, Kamis (24/6/2010), mengatakan, WMKT tidak diperpanjang lagi. Tenda harus segera dibongkar. "Surat pembongkaran sedang kami bikin. Kami beri waktu tiga hari untuk bongkar tenda," katanya.
Menurut Hariyanto, seharusnya kontrak selesai pada 8 Juni lalu. Namun, Pemkot Jakarta Barat menggelar evaluasi sebelum memutuskan WMKT tidak diperpanjang.
WMKT yang berisi tenda kuliner dinilai tidak mengikuti kesepakatan yang dibikin antara Wali Kota Jakarta Barat dan Paguyuban Kota Tua Seksi Taman Fatahillah dan Kalibesar Timur. Kesepakatan yang dilanggar antara lain terkait jam buka-tutup.
Hariyanto mengatakan, jam buka warung tenda Senin-Kamis pukul 16.00-24.00. Adapun Jumat-Minggu pukul 10.00-24.00. "Tapi kenyataannya jam buka tidak sesuai perjanjian," ujarnya.
Di sekitar lokasi, warung tenda itu sudah buka sejak sekitar pukul 11.00. Kesepakatan lain yang dilanggar adalah jenis tenda yang seharusnya bongkar-pasang. Pada kenyataan di lapangan, tenda itu tetap berdiri di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara sepanjang hari sejak dimulainya WMKT.
Harus membayar
Selain pelanggaran jam buka-tutup waktu berdagang, dan jenis tenda yang digunakan, juga ditemukan adanya penarikan biaya terhadap para pedagang.
Pedagang diharuskan membayar Rp 5 juta untuk mendapat tempat di WMKT. Setiap bulannya tiap pedagang juga harus membayar lagi Rp 2,5 juta.
Hal itu dikeluhkan sejumlah pedagang. Pasalnya, harga sewa tempat itu sangat mahal, tak sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang.
"Mereka lebih memilih di kaki lima karena harga lebih murah. Berat buat pedagang tenda di sini," ujar pedagang yang enggan disebut jati dirinya.
Keluhan juga datang dari para penggemar fotografi. Mereka menyesalkan keberadaan warung tenda yang menutupi penampilan gedung-gedung bersejarah di kawasan itu.
Pemandangan dari ujung ke ujung di sepanjang Jalan Pintu Besar Utara dan Kalibesar Timur 3 menjadi penuh dengan warung tenda dan pedagang kaki lima.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Arie Budhiman mengatakan, untuk sementara waktu WMKT dihentikan, dan belum ada rencana menggantinya dengan program lain. Sementara itu, Djoko Ramadhan menyatakan, wisata malam hendaknya digelar di luar Taman Fatahillah.
"Hidupkan juga Kali Besar. Jangan hanya di situ-situ saja," kata Djoko. (pra)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang