Jakarta Butuh 73 Juta Lubang Biopori

Kompas.com - 27/06/2010, 03:22 WIB

Jakarta, Kompas - Untuk mempercepat penyerapan air ke dalam tanah dan mencegah banjir, Jakarta membutuhkan tambahan 73 juta lubang biopori. Setiap warga Jakarta harus berperan serta untuk membuat lubang biopori di lingkungan masing-masing guna mengurangi genangan dan banjir.

”Saat ini, Jakarta baru memiliki sekitar tiga juta lubang biopori. Idealnya, Jakarta memiliki 76 juta lubang biopori agar air hujan lebih cepat terserap ke tanah,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, saat peluncuran program Sahabat Biopori di SDN 12 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Sabtu (26/6).

Menurut Fauzi, pembuatan lubang biopori harus disertai penanaman puluhan ribu pohon agar kemampuan tanah untuk menyerap air semakin tinggi. Peningkatan daya serap tanah diperlukan karena luas lahan terbuka di Jakarta semakin sempit sehingga air hujan yang masuk ke saluran drainase menjadi terlalu banyak dan menimbulkan genangan dan banjir.

Selain mengatasi banjir, lubang biopori juga berfungsi menambah air tanah. Saat ini, air tanah disedot secara berlebihan oleh warga melalui sumur dangkal dan oleh pengusaha melalui sumur dalam.

Program Sahabat Bipori 

Program Sahabat Biopori diluncurkan oleh Yayasan Bhuvana Nusantara untuk menciptakan kesadaran bagi anak-anak agar peduli terhadap alam. Anak-anak di sejumlah SD akan diajarkan membuat lubang biopori dan fungsinya bagi alam.

Direktur Eksekutif Yayasan Bhuvana Nusantara Sri Laksmi Dewi mengatakan, kesadaran bagi anak-anak untuk mencintai alam mempunyai dampak yang sangat besar untuk jangka pendek dan panjang. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang ramah lingkungan jika memiliki kesadaran tersebut sejak dini.

Pembuatan lubang biopori mudah untuk dilakukan. Lubang itu dapat dibuat dengan diameter 10 sentimeter dan kedalaman satu meter. Lubang itu juga perlu diisi sampah organik agar cacing membuat pori-pori di dalam tanah sehingga air lebih mudah terserap.

Ketua Kebun Raya Indonesia, yang juga Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri yang hadir dalam acara itu mengatakan, sosialisasi pembuatan lubang biopori kepada anak-anak dapat mempercepat penambahan lubang biopori di Jakarta. Anak-anak akan mengajarkan kepada orangtua mereka mengenai pembuatan lubang biopori sehingga jumlahnya akan bertambah dengan cepat.

”Alam sangat bijak dalam memberikan berkah. Namun, perlu diingat, alam juga dapat marah dengan menimbulkan banjir dan longsor. Jadi kita juga harus bersikap baik terhadap alam,” kata Megawati.

Megawati mengingatkan pentingnya mengembalikan air ke dalam tanah dan tidak langsung membuangnya ke sungai atau laut. Air yang masuk ke dalam tanah dapat digunakan oleh anak cucu di masa depan.

Fauzi Bowo berharap program Sahabat Biopori juga dapat diselenggarakan di elemen-elemen masyarakat lain, bukan hanya di sekolah. Peran serta semua warga dibutuhkan karena sebagian besar tanah di Jakarta milik warga.

Pada kesempatan terpisah, Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi mengatakan, terus mengintensifkan pembuatan lubang biopori dan penanaman pohon di wilayahnya. Setiap ketua RT diminta menggerakkan warga untuk menanam pohon di pekarangan dan di tepi jalan.

Setiap RT diminta menanam sepuluh pohon setiap bulan. Kewajiban jumlah pohon yang ditanam sedikit, tetapi jika dikompilasi dapat mencapai puluhan ribu pohon. Selain menanam pohon, warga juga diminta membuat lubang biopori agar lebih banyak air terserap oleh tanah dan pohon yang ada di dekatnya tumbuh lebih baik. (ECA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau