PLN Dukung Rencana Bangun PLTA Urumuka

Kompas.com - 27/06/2010, 19:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pemerintah daerah Papua untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka di dekat Timika, mendapat sambutan positif dari pihak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Inisiatif pemda itu dinilai dapat mempercepat pembangunan sektor kelistrikan di daerah bersangkutan.  

"Kami sangat bergembira, mendukung dan akan membantu sepenuhnya rencana tesrebut. Apalagi dijadwalkan dalam empat tahun sudah akan menghasilkan listrik," kata Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan, dalam siaran pers, Minggu (27/6/2010), di Jakarta.  

Dahlan mengaku sudah mendapat laporan dari PLN Timika mengenai rencana Pemda melalui perusahaan daerah PT Papua Power Indonesia yang bekerjasama dengan BUMN PT Indra Karya. "Ini bagus dan membanggakan. Ternyata pemda sudah memiliki inisiatif dan sudah bergerak. Kalau semua pemda bergerak cepat seperti Pemda Papua, Indonesia akan cepat maju secara keseluruhan," katanya.  

Terkait rencana PLN yang juga akan membangun PLTA Urumuka tersebut, Dahlan mengatakan niat PLN hanya ingin membantu kelistrikan Papua lebih cepat. "Tapi kalau pemda setempat sudah bisa bergerak sendiri, tentu kami mendukung apa yang akan dilakukan pihak pemda," ujar Dahlan.  

Meski pembangunan PLTA Urumuka akan dilakukan oleh Pemda dan PT Indra Karya, PLN siap memberi bantuan apa saja yang diperlukan. Selama ini PLN berpengalaman dalam membangun PLTA besar di seluruh wilayah Indonesia. " Kalau diperlukan PLN siap membantu dan siap di belakang konsorsium Pemda-Indra Karya," ujar Dahlan.  

Dahlan mengatakan membangun PLTA memiliki kekhasannya tersendiri. Keputusan pemda untuk menggandeng pihak Nindya Karya dinilai tepat karena Nindya Karya punya pengalaman luas dalam membangun proyek-proyek sipil. PLTA itu lebih banyak pekerjaan sipilnya. "Jadi Nindya Karya cocok untuk diajak bersama membangun PLTA Urumuka," kata dia.  

Namun Dahlan menyarankan agar pemda setempat menggandeng satu perusahaan lagi yang berpengalaman di bidang elektrikalnya. Konsorsium itu juga dipersilakan menggandeng perusahaan yang terlanjur menandatangani nota kesepahaman dengan PLN jika dinilai hal itu merupakan pilihan terbaik.  

Dahlan juga menyarankan agar konsorsium tersebut sekaligus membangun transmisi dari PLTA menuju Timika. Dengan demikian proyek ini akan sinkron sejak hulu sampai hilirnya. Dengan kepastian pembangunan PLTA Urumuka oleh konsorsium pemda ini, PLN akan mengevaluasi kembali perencanaan kelistrikan di Timika. Oleh karena, PLTA Urumuka sangat besar dan kalau sudah berjalan nanti sangat jarang rusak.  

"Karena itu sumber listrik Timika kelak, sebaiknya sepenuhnya mengandalkan sumber dari PLTA Urumuka. Dengan proyek Urumuka, proyek lain seperti PLTU tidak banyak artinya lagi. PLTU itu tidak termasuk energi green. Mendatangkan batubaranya juga sangat jauh. Apalagi PLTU juga sesekali mesti rusak atau diperbaiki," ujarnya.  

Sementara PLTA seperti Urumuka akan sangat handal, stabil dan sangat green. " Kalau Pemda sudah membangun PLTA Urumuka, semua urusan listrik di sekitar Timika tidak akan ada yang bisa menandingi," kata Dahlan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau