MIRZA ADITYASWARA
Pada 19 Juni, Bank Sentral China mengumumkan kebijakan pengelolaan mata uangnya. Pergerakan yuan akan dilepas dari dollar AS, artinya kurs yuan tidak lagi tetap (fixed
Beberapa ekonom memprediksi yuan akan menguat terhadap dollar AS sebanyak 3 sampai 5 persen di tahun 2010, dari 6,8 yuan menjadi 6,6 yuan, dan akan terus menguat ke 6,2 yuan per dollar AS tahun 2011.
Kebijakan yuan tersebut bukan baru karena pada 21 Juli 2005 China pernah merevaluasi yuan terhadap dollar AS sebesar 2,1 persen, dari 8,28 yuan ke 8,11 yuan per dollar AS, dan dari Juli 2005 sampai Juli 2008, nilai yuan menguat 18 persen, dari 8,28 ke 6,8 yuan per dollar AS.
Selama ini China dituding sengaja memperlemah yuan sehingga ekspornya meningkat dan membuat defisit neraca perdagangan di pihak AS. Defisit perdagangan AS dengan China tahun 2009 mencapai 227 miliar dollar AS. Beberapa pihak menganalisis bahwa yuan diperlemah (undervalued) 30 persen dibandingkan fundamental ekonominya. Peningkatan ekspor yang terus-menerus membuat cadangan devisa China mencapai 2.4 triliun dollar AS.
Dalam situasi ekonomi AS baru mulai pulih dan ekonomi Eropa masih resesi, China diminta ikut menunjukkan kepedulian mengangkat perekonomian global. Revaluasi yuan akan membuat harga barang impor menjadi lebih murah bagi rakyatnya sehingga diharapkan China akan mengimpor lebih banyak dari AS dan Eropa.
Yang menarik adalah kebijakan yuan tersebut diumumkan satu minggu sebelum pertemuan negara G-20. Walaupun hal ini dilakukan atas desakan politik negara maju, China tidak mau terjebak seperti Jepang yang mengalami tekanan yang sama pada tahun 1985. Pemerintah China berhati-hati melepas pergerakan kurs mata uangnya, yaitu dengan cara pengendalian lalu lintas modal hanya dilakukan secara perlahan dilepas kepada mekanisme pasar.
China tidak ingin pergerakan kurs yuan terlalu signifikan, yaitu demi menjaga stabilitas sistem keuangannya. Jika yuan menguat terlalu cepat dalam waktu singkat hanya akan membuat produk ekspornya tidak kompetitif dan membangkrutkan banyak perusahaan China sehingga perbankannya menderita kredit bermasalah. Sebaliknya, jika yuan melemah terlalu signifikan dalam waktu singkat, juga akan membuat daya beli masyarakatnya turun, utang dollar AS menjadi mahal, dan akan membuat perbankan China juga menderita (krisis perbankan Indonesia di tahun 1998 karena kurs rupiah melemah signifikan). China lebih memilih lebih dulu mereformasi sektor keuangannya, meningkatkan modal perbankan, dan membersihkan kredit bermasalahnya sebelum China melakukan liberalisasi kurs mata uangnya.
Apa yang dialami Jepang pada dekade 1980-an membuat China berusaha menghindari nasib seperti Jepang? AS pada saat itu menekan Jepang untuk merevaluasi mata uang yen berhubung defisit perdagangan dengan Jepang mencapai 45 miliar dollar AS tahun 1985. Pada 22 September 1985 melalui pertemuan lima negara maju (AS, Jepang, Jerman, Perancis, dan Inggris) di Hotel Plaza New York disepakati bahwa dollar AS harus diperlemah agar ekspor AS bisa meningkat. Disepakati pula agar Jepang melonggarkan kebijakan moneternya dan Jerman memotong tarif pajak agar kedua negara tersebut ekonominya bergerak cepat, bisa menyerap produk AS lebih banyak.
Yang terjadi adalah kurs yen menguat hampir dua kali lipat terhadap dollar AS, dari 239 yen tahun 1985 menjadi 128 yen per dollar AS tahun 1988. Setelah Plaza Accord, investor portofolio asing menyerbu pasar modal Jepang karena mengharapkan keuntungan dari apresiasi yen sambil sekaligus membeli saham perusahaan Jepang.
Indeks Nikkei di bursa saham Jepang melesat ke 38.957 di tahun 1989. Naik hampir 300 persen sejak Plaza Accord 1985. Akan tetapi, setelah itu Jepang mengalami depresi ekonomi berkepanjangan dan keruntuhan bursa saham Jepang, bahkan sampai hari ini setelah Bank Sentral Jepang mulai mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga di tahun 1990. Jepang dianggap terlambat mengendalikan inflasi harga aset pada periode itu. Pelajaran bagi China adalah persiapkan sistem keuangan dan perbankan dengan baik dan melakukan kebijakan moneter yang berhati-hati sebelum melakukan liberalisasi kurs mata uang.
Apa pengaruh apresiasi yuan bagi Indonesia? Secara teori, apresiasi yuan (dan pelemahan rupiah) akan menguntungkan Indonesia karena produk ekspor kita menjadi lebih kompetitif di pasar China. Pada waktu kurs yuan menguat 18 persen terhadap dollar AS (Juli 2005-Juli 2008), kurs rupiah melemah 13 persen terhadap yuan. Namun, yang terjadi, peningkatan ekspor Indonesia ke China lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan impor dari China.
Ekspor Indonesia ke China naik hampir dua kali lipat dari 6,7 miliar dollar AS tahun 2005 menjadi 11,6 miliar dollar AS tahun 2008. Impor naik hampir tiga kali lipat dari 5,8 miliar dollar AS jadi 15,2 miliar dollar AS. Akibatnya, tahun 2005 Indonesia masih memiliki surplus 819 juta dollar AS pada neraca perdagangan dengan China. Namun, tahun 2008, kita defisit 3,6 miliar dollar AS.
Apa yang terjadi? Ternyata ada faktor kompetitif selain kurs yang menentukan kemajuan suatu negara. Misalnya tersedianya infrastruktur, energi, sumber daya manusia yang andal, dan efisiensi birokrasi. Marilah kita atasi empat masalah itu agar negara ini mendapatkan manfaat dari revaluasi yuan.