Piala dunia 2010

Para Presiden Pun sampai Turun Tangan

Kompas.com - 29/06/2010, 09:10 WIB

RUPANYA bukan hanya soal skill dan kekompakan tim yang menjadi penentu kemenangan Ghana atas Amerika Serikat dalam partai perdelapan final Piala Dunia, Sabtu (26/6). Tim berjuluk ”Black Stars” tersebut juga mendapat suntikan moril yang besar dari orang nomor satu di negeri Afrika Barat tersebut.

Ya, Presiden Ghana John Atta Mills sendiri yang turun tangan memimpin para pemain untuk berdoa bersama sebelum laga melawan Negeri Adidaya itu.

Mills, yang menjabat sebagai presiden sejak 2009, juga menyampaikan sedikit wejangan kepada anggota tim di ruang ganti. ”Itu memberi banyak perbedaan buat anak-anak,” kata Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Ghana Fred Pappoe seperti dikutip Reuters, Senin (28/6).

Pappoe, yang juga menjabat sebagai manajer tim, mengatakan, berdoa bersama menjadi rutinitas para pemain. Mereka selalu berdoa di dalam bus, hotel, dan lapangan, apa pun hasilnya. ”Namun, kehadiran presiden di sini dan menonton bersama Sepp Blatter (Presiden FIFA) merupakan dorongan moril yang sangat besar. Apalagi, saat dia (Mills) mendatangi ruang ganti dan berbicara dengan para pemain,” kata Pappoe.

Doa dan dukungan itulah yang dikatakan Pappoe menjadi motivasi kuat buat para pemain. Apalagi, Ghana menjadi satu-satunya tim Afrika yang tersisa di babak lanjutan ini setelah tuan rumah Afrika Selatan, Nigeria, Aljazair, Kamerun, dan Pantai Gading tersingkir pada penyisihan grup.

Pappoe mengatakan, tim sepenuhnya sadar beban berat itu, menanggung kehormatan seluruh benua. ”Hal itu sangat berarti sekaligus membawa tekanan dan harapan besar. Namun, anak- anak akan bermain dengan seluruh kekuatannya sampai batas teratas,” ujarnya lagi.

Kunjungan Presiden Mills, yang juga seorang profesor ekonomi, telah membantu menenangkan para pemain.

”Mereka (pemain) menjadi tidak tegang sama sekali. Mereka yakin kepada pelatih. Jika mereka bermain sesuai dengan aturan, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Pappoe.

Dukungan moril tersebut masih akan diperlukan Ghana saat mereka bermain pada babak perempat final melawan tim kuat Uruguay pada 2 Juli nanti.

G-20

Selain Presiden Ghana yang turun langsung mendukung tim nasionalnya di Afsel, para kepala negara lain juga tidak mau kalah mendukung timnasnya masing-masing. Tak terkecuali saat para pemimpin itu sedang menghadiri pertemuan penting G-8 dan G-20 yang berlangsung di Toronto, Kanada. The Wall Street Journal melaporkan, 10 pemimpin negara dari 26 peserta pertemuan G-8 dan G-20 di Toronto sibuk membicarakan dan berusaha menonton sepak terjang timnya di Piala Dunia.

Termasuk pemimpin negara terkuat dunia, Barack Obama, yang menyimak terus sepak terjang tim AS di Piala Dunia. Saat pertandingan perdelapan final melawan Ghana, Presiden Obama tengah menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Terus dikabari

Saat AS ketinggalan satu gol, Sekretaris Keuangan Timothy Geithner masuk ke ruangan dan mengabarkan hal tersebut kepada Obama. ”Itu bukan hal yang mau saya dengar,” ujar Obama, seperti dituturkan seorang anggota staf rombongan Inggris.

Seusai pertemuan, Obama bergegas ke sebuah ruangan untuk menyaksikan sisa pertandingan tersebut. Saat Kepala Staf Gedung Putih Rahm Emanuel masuk, AS tertinggal 1-2 pada babak perpanjangan waktu. ”Waktunya tinggal lima menit. Ini sangat menegangkan,” kata Obama menjawab pertanyaan Emanuel.

Sayang, para reporter sudah disuruh keluar ruangan sebelum laga selesai sehingga tidak mengetahui reaksi Obama atas hasil akhir partai itu.

Sebenarnya, selain dukungan jarak jauh Obama, ”The Stars and Stripes”, sebutan tim AS, juga didukung langsung mantan Presiden Bill Clinton, yang datang langsung ke Afsel.

Clinton, yang juga menjadi anggota tim sukses AS untuk mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018, terlihat menyaksikan partai terakhir AS saat menghadapi Aljazair dan laga 16 besar melawan Ghana.

Kedatangan Clinton di partai melawan Aljazair seolah membawa keberuntungan karena AS akhirnya memenangi laga dan memastikan tiket lolos 16 besar. Namun, tuah itu rupanya redam karena hal serupa tidak terjadi kala AS ditekuk Ghana.

Duka Italia dan Inggris

Sementara itu, PM Italia Silvio Berlusconi dan PM Inggris David Cameron harus berbagi duka yang sama saat mengetahui tim ”Azzurri” tersisih dari Piala Dunia. Berlusconi pun sempat berujar, ia akan mengalihkan dukungannya kepada tim Inggris, yang dilatih Fabio Capello, pelatih berkebangsaan Italia.

Namun, keduanya pun kembali kecewa setelah Inggris ditekuk Jerman 1-4, Minggu malam. Saat itu, Cameron dan Kanselir Jerman Angela Merkel nonton bareng pada babak kedua. Dalam pembicaraan itu, Merkel mengakui keabsahan gol kedua Inggris, yang dianulir wasit karena dinilai belum melewati garis gawang.

PM Jepang Naoto Kan pun berharap negaranya, satu-satunya wakil Asia yang tersisa, bisa bertemu Jerman di partai final nanti. Ambisi yang layak didukung. Mantap! (ENG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau