Bbm

Pertamina Pangkas Jatah BBM Subsidi

Kompas.com - 29/06/2010, 10:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Ada kabar kurang mengenakkan bagi korporat yang selama ini menjadi pelanggan langsung PT Pertamina. Perusahaan pelat merah ini memutuskan memangkas sebagian jatah bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang selama ini mereka pasok. Pelanggan langsung adalah pembeli BBM bersubsidi Pertamina yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sendiri.

Juru Bicara Pertamina Basuki Trikora Putra menyatakan, pengurangan pasokan BBM bersubsidi itu bertujuan agar kuota subsidi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara Perubahan (APBN-P) 2010 tak terlampaui. Sayangnya, ia mengaku tak ingat rata-rata pengurangan setiap pelanggan. Yang jelas, "Konsumen tetap bisa memperoleh BBM, tapi dari SPBU kami atau menggunakan jenis Pertamax," kata Basuki kepada KONTAN, Senin (28/6/2010).

Alasan Pertamina ini masuk akal. Merujuk data per Mei 2010, Pertamina telah menjual 15,34 juta kiloliter (KL) BBM subsidi. Rinciannya: Premium 9,16 juta KL, Solar 5,12 juta KL, dan Minyak Tanah 1,06 juta KL. Jumlah ini setara dengan 42,1 persen dari kuota BBM bersubsidi dalam APBN-P 2010 sebanyak 36,4 juta KL.

Nah,salah satu pelanggan langsung Pertamina yang dipangkas jatahnya adalah Grup Blue Bird. Basuki mengatakan, Pertamina mengurangi pasokan BBM ke Blue Bird sejak 23 Juni lalu. Besarnya pengurangan adalah 31,4 persen dari kuota atau setara 847,8 KL per bulan. Selama ini, jatah BBM untuk SPBU Blue Bird sebanyak 2.700 KL per bulan.

Vice President Pemasaran BBM Ritel Pertamina Deni Wisnuwardani menambahkan, pengurangan jatah BBM untuk pelanggan langsung adalah langkah mengkampanyekan program "Cinta BBM Non PSO (subsidi)". Makanya, ia menyarankan agar armada taksi seperti Silver Bird memakai Pertamax.

Juru Bicara Blue Bird Teguh Wijayanto membenarkan bahwa jatah BBM  SPBU Blue Bird dikurangi. Tapi ia belum bisa menerangkan apa langkah Blue Bird selanjutnya. "Saya belum bisa berkomentar banyak karena masih didiskusikan manajemen," jelasnya.

Sejauh ini, belum diketahui perusahaan mana lagi yang jatah BBM subsidinya dipangkas. Yang jelas, Basuki berjanji, Pertamina tetap memperhatikan konsumen. la juga membantah jika menerapkan kebijakan ini lantaran ada kelangkaan BBNI di Pertamina.

Yang menarik, Eka Sari Lorena Soerbakti, Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda), mengaku belum tahu kabar ini. Tapi, ia mengingatkan Pertamina memikirkan dampak kebijakan ini. (Kontan/Fitri Nur A.. Herlina Kartika, Gentur Putro, Ewo R.)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau