Berdamai dengan Hobi Suami

Kompas.com - 29/06/2010, 19:44 WIB

KOMPAS.com - Selama Piala Dunia 2010 berlangsung, mungkin ada beberapa di antara Anda yang jadi kesal dengan suami. Sebab, perhatiannya kini seluruhnya tertumpah pada pertandingan. Kalau tidak nonton bareng bersama rekan-rekan kantornya, suami pasti asyik sendiri di rumah. Ia sama tak lagi menyisihkan waktunya untuk bermain dengan si kecil. Boro-boro mau membantu Anda mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya.

Pria dan sepakbola memang tidak bisa dipisahkan, meskipun tidak semua pria senang menonton bola. Hal ini mungkin sama dengan yang terjadi saat pasangan sedang menggeluti hobinya. "Pada dasarnya, keterlibatan seseorang pada hobinya, secara psikologis sangat manusiawi karena didasari rasa ingin tahu yang membuatnya ingin mencoba atau mencari tahu," jelas Dra Tiwin Herman, MPsi, dari lembaga konsultan psikologi Psiko Utama.

Melakukan hobi pun pada dasarnya adalah hal yang positif. Tetapi kalau berlebihan, itu yang jadi masalah. Wanita cenderung bisa mengontrol diri karena sadar dirinya mempunyai tugas mengurus rumah dan keluarga. Tidak demikian dengan pria. Itulah sebabnya mengapa banyak pertengkaran rumah tangga berawal di sini. Suami menghabiskan waktu dan uang terlalu banyak untuk hobinya, sedangkan istri tidak terima. Jangan biarkan masalah ini berlarut karena bisa melebar ke mana-mana.

Toleransi. Cobalah pahami apa kegemaran suami. Perlu diketahui bahwa pernikahan adalah proses penyesuaian diri terus-menerus satu sama lain, sejak awal menikah sampai kakek-nenek. Penyesuaian diri tersebut terjadi pada seluruh aspek kehidupan yang dijalaninya, termasuk kesediaan, dukungan, dan pemahaman atas hal-hal yang disenangi oleh pasangan.

Komunikasi. Agar tidak terjadi salah paham yang berujung pada protes, sebaiknya bicarakan dengan suami tentang hobinya apabila sudah mengganggu. Mintalah ia untuk tetap memperhatikan Anda dan keluarga.

Berikan kebebasan. Biarkan suami melakukan hobinya selama tetap bertanggung jawab dan tidak melanggar batas. Toh, hobi bisa menjadi salah satu cara memperluas jaringan juga.

Dukung. Selama tidak mengganggu rumah tangga, tidak usah mengomeli suami jika ia sibuk dengan hobinya. Misalnya suami hobi memancing, tidak usah diprotes. Cukup ingatkan supaya tidak lupa makan. Kalau perlu, bawakan bekal dari rumah untuk suami. Mungkin tidak hanya untuk suami, tapi juga teman-temannya. Suami pasti senang dan bangga bisa membagi makanan pemberian istri kepada teman-temannya. Hal yang sama lakukan juga saat suami pamitan mau nonton bola bareng.

Bergabung. Sesekali tidak ada salahnya mengikuti hobi atau kegiatan suami. Selain memperluas jaringan, pengetahuan Anda juga bertambah. Anda jadi tahu siapa saja pemain bola top dunia, bagaimana pola permainan kesebelasan yang diunggulkan, atau kisah-kisah bersejarah dalam dunia persepakbolaan.

Kembangkan. Kalau hobi suami bisa menghasilkan uang, kembangkan saja. Hobi suami tersalurkan, pendapatan rumah tangga pun bertambah.

Berbicara mengenai hobi, suami dan istri bisa sangat berbeda. Misalnya suami hobi mengutak-atik mobil, sementara istri hobi membaca. Diperlukan pemahaman masing-masing agar semua hobi bisa dilakukan tanpa ada yang dirugikan. Suami juga tentu kesal bila Anda begitu larut dengan novel yang Anda baca, sampai tidak mempedulikan ajakan suami untuk menonton film.

Idealnya, suami bisa ikut senang membaca, sedangkan istri mampu menjadi "asisten montir". Tetapi kalau tidak bisa dan tidak suka, tak perlu dipaksakan. Apalagi jika hobi itu menyangkut menonton pertandingan bola saat Piala Dunia. Bersabar sajalah, toh acara ini hanya berlangsung sebulan. Setelah itu, kehidupan Anda pasti "sembuh" seperti sedia kala.

(Midya Desiani)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau