KABUL, KOMPAS.com — Sebanyak 100 tentara asing yang memerangi Taliban di Afganistan tewas selama bulan Juni. Bulan tersebut tergolong bulan paling mematikan bagi NATO dalam sembilan tahun perangnya di negara itu.
Pengumuman Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atas kematian seorang tentara negara adidaya itu pada 24 Juni di provinsi bergolak, Farah, Afghanistan barat, membuat jumlah yang tewas pada tahun ini menjadi 320 orang (tahun lalu total tentara yang tewas 520 orang). Angka itu berdasarkan hitungan laman mandiri icasualties.org.
Departemen Pertahanan menyatakan, prajurit Robert Repkie (20) dari Tennessee meninggal pada 24 Juni akibat luka yang tak terkait dengan pertempuran. Hal ini pun masih diselidiki. Juru bicara Pasukan Pendukung Keamanan Asing (ISAF) pimpinan NATO menyatakan, 81 tentara asing tewas dalam pertempuran pada bulan Juni. Ia menyatakan, 12 tentara tewas bukan akibat pertempuran. Sisanya, yang tidak dihitung ISAF, tewas akibat luka setelah pulang untuk pengobatan.
Tidak ada pasukan NATO tewas di Afganistan, Senin, kata juru bicara itu. Ia menambahkan, "Hari baik adalah hal yang langka bagi kami pada bulan ini."
Bulan dengan kematian tertinggi sebelumnya ialah Agustus tahun lalu. Kala itu, sebanyak 77 tentara tewas.
Amerika Serikat dan NATO memiliki 140.000 tentara di Afganistan. Jumlahnya dijadwalkan mencapai puncak hingga 150.000 orang pada Agustus mendatang dalam upaya untuk memadamkan perlawanan Taliban.
Taliban, yang memerintah Afganistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan Amerika Serikat tahun 2001. Taliban menolak menyerahkan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab dalam serangan 11 September 2001 yang menewaskan sekitar 3.000 orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang