Imparsial:

Tentara Non-AD Silakan Jadi Panglima TNI

Kompas.com - 30/06/2010, 14:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sepakat Panglima TNI baru sebaiknya tidak berasal dari Angkatan Darat lagi. Hal ini sesuai dengan prinsip bergiliran dalam Pasal 13 ayat 4 Undang-Undang TNI.

"Mengacu pada UU TNI, proses pergantian Panglima TNI mensyaratkan dan menyiratkan bahwa pergantian Panglima dilakukan bergiliran," ungkap perwakilan Imparsial, Al-Araf, Rabu (30/6/2010) di Jakarta.

Dia melanjutkan, dengan konteks tersebut sudah menjadi kewajiban dan keharusan bagi otoritas politik untuk melaksanakan mandat UU TNI dengan cara memberikan kesempatan kepada calon dari angkatan lainnya untuk menduduki jabatan Panglima TNI.

Selama ini, tentara AD mendominasi jabatan Panglima TNI sebanyak delapan kali sejak tahun 1968. Sementara Angkatan Laut dan Udara masing-masing hanya sekali mendapat kesempatan sebagai Panglima TNI, yakni pada 1999 dan 2006.

"Prinsip bergiliran sesungguhnya mengandung makna bahwa otoritas politik perlu bersikap adil terkait dengan pergantian posisi panglima TNI," kata Al-Araf.

Dengan adanya prinsip tersebut, maka potensi dominasi dan monopoli salah satu angkatan dalam pergantian Panglima TNI sebagaimana yang terjadi pada masa rezim otoritarian Soeharto tidak akan terwujud.

Wakil Koordinator Kontras Harris Azhar mengemukakan, dalam pemilihan Panglima TNI, Presiden harus membuka ruang untuk masyarakat mengomentari para calon. Pelibatan masyarakat tersebut akan membuka peluang publik untuk mengkritik kapabilitas calon sehingga Panglima TNI terpilih nantinya diharapkan memiliki track record yang baik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau