JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Seolah terkenang pada kejayaan sepak bola Uruguay di tahun 1930 dan 1950, saat "La Celeste" meraih Piala Dunia, pelatih Oscar Tabarez pun menantang timnya untuk kembali mengulang sejarah tersebut. Tabarez percaya, skuadnya mampu menuntaskan mimpi rakyat Uruguay selama ini.
"Sebelum kami mulai Piala Dunia ini, kami melihat keharmonisan yang luar biasa di antara para pemain, dan saya berkata pada mereka, 'Orang-orang di Uruguay punya aspirasi dan juga mimpi. Kita harus memberikan itu bagi mereka.'," ungkap Tabarez.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, jalan yang harus ditempuh memang tak mudah. Dan Uruguay bisa dibilang telah melewati itu semua. Terseok-seok di putaran kualifikasi, sehingga memaksa Diego Forlan dkk memainkan laga playoff untuk mendapatkan jatah tiket, Uruguay justru tampil trengginas di putaran final Piala Dunia Afrika Selatan 2010.
Babak penyisihan Grup A dilalui Uruguay tanpa kesulitan berarti. Runner up 2006, Perancis, ditahan imbang tanpa gol. Tuan rumah Afrika Selatan, dihajar tiga gol tanpa balas. Sementara Meksiko, berhasil dipecundangi dengan skor 1-0. Alhasil, Uruguay lolos ke babak perdelapan final sebagai Juara Grup A, dengan poin 7.
Memasuki fase 16 besar, pasukan "Biru Langit" ditantang wakil Asia, Korea Selatan. Korsel, yang pernah punya prestasi fenomenal kala jadi tuan rumah (bersama Jepang) Piala Dunia 2002, dibuat tak berkutik. "The Taeguk Warriors" takluk 1-2 dari Uruguay.
Sekarang, penantang baru telah hadir di depan mata. Mereka adalah Ghana, satu-satunya wakil Benua Afrika yang masih bertahan. Menghadapi Ghana jelas bukan perkara mudah. Selain faktor 'jaga gengsi' yang dipegang Andre Ayew dkk, sebagian besar pemain Ghana adalah juara dunia U-20 2009.
Wajar, bila pertarungan perempat final antara keduanya bakal berjalan keras. Pasalnya, baik Uruguay maupu Ghana, sama-sama punya mimpi dan semangat juang yang kokoh. Ghana sendiri telah menunjukkan hal tersebut saat mengakhiri mimpi Amerika Serikat di laga 16 besar, yang berlangsung hingga perpanjangan waktu.
Namun, sebagai pelatih, Tabarez tentu tahu secara pasti apa yang jadi modal utama skuadnya. Dan bagi Tabarez, modal itu adalah kesatuan tim. Pelatih berusia 63 tahun ini, mengaku sangat senang dengan kekompakkan yang ditunjukkan anak-anak asuhnya selama mereka berada di Afsel.
Kini, Tabarez berharap semangat persatuan itu akan terus terjaga dan kian meningkat hingga akhir kompetisi. Seiring dengan keyakinan rakyat Uruguay, yang berharap timnas mereka mampu meraih kejayaan lagi.
"Kami semua punya target, baik secara profesional maupun personal. Dan target kami adalah melangkah sejauh mungkin di turnamen ini," pungkas Tabarez.(FIFA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang