Jelang uruguay vs ghana

Tabarez Ingin Ulangi Sejarah

Kompas.com - 30/06/2010, 20:02 WIB

JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Seolah terkenang pada kejayaan sepak bola Uruguay di tahun 1930 dan 1950, saat "La Celeste" meraih Piala Dunia, pelatih Oscar Tabarez pun menantang timnya untuk kembali mengulang sejarah tersebut. Tabarez percaya, skuadnya mampu menuntaskan mimpi rakyat Uruguay selama ini.

"Sebelum kami mulai Piala Dunia ini, kami melihat keharmonisan yang luar biasa di antara para pemain, dan saya berkata pada mereka, 'Orang-orang di Uruguay punya aspirasi dan juga mimpi. Kita harus memberikan itu bagi mereka.'," ungkap Tabarez.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, jalan yang harus ditempuh memang tak mudah. Dan Uruguay bisa dibilang telah melewati itu semua. Terseok-seok di putaran kualifikasi, sehingga memaksa Diego Forlan dkk memainkan laga playoff untuk mendapatkan jatah tiket, Uruguay justru tampil trengginas di putaran final Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

Babak penyisihan Grup A dilalui Uruguay tanpa kesulitan berarti. Runner up 2006, Perancis, ditahan imbang tanpa gol. Tuan rumah Afrika Selatan, dihajar tiga gol tanpa balas. Sementara Meksiko, berhasil dipecundangi dengan skor 1-0. Alhasil, Uruguay lolos ke babak perdelapan final sebagai Juara Grup A, dengan poin 7.

Memasuki fase 16 besar, pasukan "Biru Langit" ditantang wakil Asia, Korea Selatan. Korsel, yang pernah punya prestasi fenomenal kala jadi tuan rumah (bersama Jepang) Piala Dunia 2002, dibuat tak berkutik. "The Taeguk Warriors" takluk 1-2 dari Uruguay.

Sekarang, penantang baru telah hadir di depan mata. Mereka adalah Ghana, satu-satunya wakil Benua Afrika yang masih bertahan. Menghadapi Ghana jelas bukan perkara mudah. Selain faktor 'jaga gengsi' yang dipegang Andre Ayew dkk, sebagian besar pemain Ghana adalah juara dunia U-20 2009.

Wajar, bila pertarungan perempat final antara keduanya bakal berjalan keras. Pasalnya, baik Uruguay maupu Ghana, sama-sama punya mimpi dan semangat juang yang kokoh. Ghana sendiri telah menunjukkan hal tersebut saat mengakhiri mimpi Amerika Serikat di laga 16 besar, yang berlangsung hingga perpanjangan waktu.

Namun, sebagai pelatih, Tabarez tentu tahu secara pasti apa yang jadi modal utama skuadnya. Dan bagi Tabarez, modal itu adalah kesatuan tim. Pelatih berusia 63 tahun ini, mengaku sangat senang dengan kekompakkan yang ditunjukkan anak-anak asuhnya selama mereka berada di Afsel.

Kini, Tabarez berharap semangat persatuan itu akan terus terjaga dan kian meningkat hingga akhir kompetisi. Seiring dengan keyakinan rakyat Uruguay, yang berharap timnas mereka mampu meraih kejayaan lagi.

"Kami semua punya target, baik secara profesional maupun personal. Dan target kami adalah melangkah sejauh mungkin di turnamen ini," pungkas Tabarez.(FIFA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau