23 Grup Ramaikan Siem Ketiga di Solo

Kompas.com - 01/07/2010, 22:21 WIB

SOLO, KOMPAS.com--Sebanyak 23 grup musik nasional dan mancanegara akan meramaikan "Solo International Contemporary Ethnic Music" (SIEM) ketiga, di Stadion Sriwedari Solo, pada 7-11 Juli 2010.

Direktur Artistik SIEM, Putut H. Pramono, di Solo, Kamis, mengatakan bahwa delapan dari sembilan grup musik berasal dari mancanegara dipastikan hadir meramaikan SIEM Solo.

Para pemusik etnik tersebut di antaranya "Plaid" dan "Southbank" berasal dari Inggris, "ABO Orchestra" dan "Sonofa" (Singapura), "Solo Pipe Woman" (Taiwan), "Albert Chimedza" dan "Mbira" (Zimbabwe), serta "Kamal Mussalam" (Dubai).

Pemusik berasal dari Tanah Air yang akan tampil pergelaran SIEM, kata dia, antara lain Dewa Bujana, Iwan Hasan, Tohpati, Hamrin Samad (Makasar), Subono (Solo), Sahuni (Banyuwangi), Elizar Koto (Padang), Riau Rhytm (Riau), Krakatau, dan Bandaneira.

Seluruh penampil, kata Putut, sudah melalui seleksi cukup ketat oleh dewan kurator yang terdiri atas maestro musik Indonesia seperti Rahayu Supanggah dan Dwiki Darmawan.

Menurut dia, cukup banyak pemusik etnik andal baik Indonesia maupun mancanegara ingin berpentas di ajang SIEM ketiga itu.

Hanya saja, katanya, karena keterbatasan waktu pemangungan membuat tak semua keinginan mereka bisa diakomodasi.

"Mereka kemungkinan akan kami akomodasikan pada SIEM keempat tahun mendatang," kata Putut.

Putut menjelaskan, untuk menepis anggapan Stadion Sriwedari sebagai ajang pertunjukan musik pop dengan dukungan perusahaan rokok, maka panitia SIEM akan mendatangkan sekitar seribu boks ampas tebu berasal dari Pabrik Gula Tasikmadu.

Ampas tebu sisa penggilingan tersebut, katanya, akan ditata di sekitar panggung dengan desain artistik dan sekaligus difungsikan sebagai peredam suara.

Menurut dia, Stadion Sriwedari harus tampil beda ketika ajang SIEM karena selama ini masyarakat memahami lapangan sepak bola itu sebagai tempat pertunjukan musik pop.

Namun, kata dia, dengan tatanan artistik, baik dalam tata panggung, lingkungan sekitar panggung, tata lampu, dan desain posisi penonton, mampu mengembalikan fungsi Stadion Sriwedari sebagai media berekspresi segenap warga Solo berasal dari berbagai kalangan dan usia.

Menurut dia, selama dua kali SIEM digelar di Solo, venue yang dipilih selalu berhubungan dengan peninggalan sejarah masa lalu.

SIEM pertama digelar di Beteng Vasternburg dan kedua di Pamedan Pura Mangkunegaran dengan latar belakang bangunan kuna kavaleri.

"SIEM ketiga digelar di Stadion Sriwedari yang juga merupakan Monumen Pekan Olahraga Nasional I," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau