Argentina vs jerman

Jerman Tak Ingin Adu Penalti

Kompas.com - 02/07/2010, 03:18 WIB

Jerman adalah kesebelasan yang tidak pernah kalah dalam adu penalti pada putaran final Piala Dunia. Mereka selalu menang pada empat kali drama adu penalti yang menegangkan sejak 1982.

Pertemuan terakhir Jerman dengan Argentina di babak perempat final Piala Dunia 2006 pun harus dilewati melalui adu penalti. Saat itu, Jerman menang 4-2 di Stadion Olympic, Berlin. Tuan rumah Jerman akhirnya berada di peringkat ketiga Piala Dunia 2006.

Mantan penjaga gawang Arsenal, Jens Lehmann, menjadi pahlawan Jerman saat itu dengan menahan tendangan Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso.

Namun, tidak seperti empat tahun lalu, timnas Argentina saat ini, menurut Loew, memiliki banyak penendang penalti andal.

Loew mengatakan, salah jika menyebutkan bahwa hanya Lionel Messi pemain bagus satu-satunya di Argentina. Argentina sekarang solid dalam bertahan dan berbahaya jika menyerang. ”Argentina salah satu tim yang difavoritkan. Mungkin yang paling favorit juara,” katanya.

Meski demikian, Loew tetap menyiapkan skuadnya mengantisipasi kemungkinan pertandingan berujung adu penalti. Saat latihan, pemain dilatih menendang penalti masing-masing dua kali.

Lukas Podolski, Bastian Schweinsteiger, Mesut Ozil, Sami Khedira, dan Miroslav Klose disiapkan menjadi penendang penalti. Selain itu, kapten Philipp Lahm dan Thomas Mueller juga siap jika harus ditunjuk Loew.

Mereka telah diberi nasihat oleh Andreas Brehme, salah seorang pemain pada final Piala Dunia 1990 melawan Argentina yang membawa Jerman meraih gelar juara dunia ketiganya. ”Kamu harus percaya diri. Jangan terlalu terbebani. Tinggal tendang saja,” katanya kepada para pemain seperti dikutip AFP.

Sementara itu, Pelatih Argentina Diego Maradona menyebut babak delapan besar sebagai permulaan sejarah. Hal itu dilontarkan untuk menggambarkan betapa tim dari Amerika Selatan mendominasi Piala Dunia 2010.

Dari delapan tim yang lolos ke perempat final, empat di antaranya dari Amerika Selatan, Brasil, Argentina, Paraguay, dan Uruguay.

Argentina dan Jerman pernah bertemu dua kali di final Piala Dunia, tahun 1986 dan 1990. Tahun 1986, Argentia mengalahkan Jerman Barat 3-2. Empat tahun kemudian, Jerman mengalahkan Argentina 1-0.

Meskipun pertandingan Argentina melawan Jerman belum dimulai, perang kata-kata telah dimulai. Sebelum ini gelandang Schweinsteiger menyebut skuad Maradona sebagai pemain yang berperilaku tidak sopan di lapangan, kini giliran kapten Phillip Lahm yang mengatakan pemain Argentina temperamental.

”Kita semua tahu orang Amerika Selatan impulsif dan temperamental. Sabtu nanti kita akan melihat mereka kalah dan bagaimana mengatasi kekalalahannya,” ujar Lahm.

Menurut Schweinsteiger, kebiasaan pemain Argentina menggerakkan tangan selagi bicara dan bagaimana mereka memengaruhi wasit di lapangan sangat tidak sopan. ”Seingat saya, keributan setelah adu penalti tahun 2006 dipicu oleh tindakan pemain Argentina,” ujar gelandang Bayern Muenchen itu.

Schweinsteiger yakin bisa menang atas Argentina. Yang terpenting tidak terintimidasi dan merespons provokasi pemain Argentina. (AFP/REUTERS/ADH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau