JAKARTA, KOMPAS.com — Terkait maraknya kasus ledakan tabung elpiji di berbagai daerah di Indonesia, Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT mengusulkan desain kompor gas yang terintegrasi dengan tabung gas. Desain rancangan BPPT ini mengurangi titik sambungan yang harus dikontrol dan dioperasikan konsumen.
Pada desain yang ada saat ini, sebelum menggunakan kompor gas, konsumen harus terlebih dahulu melakukan penyambungan antara katup dengan regulator, regulator dengan selang, dan selang dengan kompor. "Pada kompor gas terintegrasi ini, konsumen hanya menyambungkan katup dengan regulator," ujar Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Arya Rezavidi, Jumat (2/7/2010) di Gedung BPPT, Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta.
Dengan demikian, berkurangnya sambungan yang harus dikontrol dan dioperasikan konsumen, dari tiga sambungan menjadi satu sambungan, maka peluang ledakan gas berkurang menjadi sepertiga saja. Berdasarkan data BPPT, penyebab utama terjadinya ledakan adalah faktor kelalaian manusia. Umumnya, ketika kompor dan tabung gas dibagi-bagikan ketika program konversi minyak tanah ke elpiji, sosialisasi pengoperasian minim.
Sebagai prototipe baru, desain ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. "Kekurangannya, sistem pengisian tabung tidak kompatibel dengan yang ada sekarang. Konsumen dan bengkel juga masih belum familiar dengan desain kompor dan tabung baru sehingga membutuhkan sosialisasi. Sementara itu, kelebihannya, hanya ada satu sambungan yang harus dikontrol dan dioperasikan," kata Arya.
Ditambahkannya, biaya produksi kompor gas terintegrasi ini lebih murah, yaitu sekitar Rp 70.000, sedangkan kompor gas model lama mencapai Rp 84.000. Sementara itu, biaya produksi tabung kompor gas terintegrasi kapasitas 3 kilogram mencapai Rp 110.000.
Desain yang sempat diajukan pada awal 2006-2007 sudah dipresentasikan di hadapan Wakil Presiden Boediono beberapa pekan lalu. Namun, pemerintah belum memutuskannya. "Pemerintah masih menginvestigasi penyebab ledakan tabung gas terlebih dahulu," kata Arya.
Kendati desain baru, Arya menjamin kualitasnya tak kalah dengan model yang saat ini beredar di masyarakat. "Tabung gas mampu menahan beban lebih dari 25 kilogram, berapi biru, dan tingkat efisiensi bisa mencapai di atas 53 persen," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang