BPPT Usul Perbaikan Desain Kompor Gas

Kompas.com - 02/07/2010, 10:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Terkait maraknya kasus ledakan tabung elpiji di berbagai daerah di Indonesia, Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT mengusulkan desain kompor gas yang terintegrasi dengan tabung gas. Desain rancangan BPPT ini mengurangi titik sambungan yang harus dikontrol dan dioperasikan konsumen.

Pada desain yang ada saat ini, sebelum menggunakan kompor gas, konsumen harus terlebih dahulu melakukan penyambungan antara katup dengan regulator, regulator dengan selang, dan selang dengan kompor. "Pada kompor gas terintegrasi ini, konsumen hanya menyambungkan katup dengan regulator," ujar Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Arya Rezavidi, Jumat (2/7/2010) di Gedung BPPT, Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta.

Dengan demikian, berkurangnya sambungan yang harus dikontrol dan dioperasikan konsumen, dari tiga sambungan menjadi satu sambungan, maka peluang ledakan gas berkurang menjadi sepertiga saja. Berdasarkan data BPPT, penyebab utama terjadinya ledakan adalah faktor kelalaian manusia. Umumnya, ketika kompor dan tabung gas dibagi-bagikan ketika program konversi minyak tanah ke elpiji, sosialisasi pengoperasian minim.

Sebagai prototipe baru, desain ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. "Kekurangannya, sistem pengisian tabung tidak kompatibel dengan yang ada sekarang. Konsumen dan bengkel juga masih belum familiar dengan desain kompor dan tabung baru sehingga membutuhkan sosialisasi. Sementara itu, kelebihannya, hanya ada satu sambungan yang harus dikontrol dan dioperasikan," kata Arya.

Ditambahkannya, biaya produksi kompor gas terintegrasi ini lebih murah, yaitu sekitar Rp 70.000, sedangkan kompor gas model lama mencapai Rp 84.000. Sementara itu, biaya produksi tabung kompor gas terintegrasi kapasitas 3 kilogram mencapai Rp 110.000.

Desain yang sempat diajukan pada awal 2006-2007 sudah dipresentasikan di hadapan Wakil Presiden Boediono beberapa pekan lalu. Namun, pemerintah belum memutuskannya. "Pemerintah masih menginvestigasi penyebab ledakan tabung gas terlebih dahulu," kata Arya.

Kendati desain baru, Arya menjamin kualitasnya tak kalah dengan model yang saat ini beredar di masyarakat. "Tabung gas mampu menahan beban lebih dari 25 kilogram, berapi biru, dan tingkat efisiensi bisa mencapai di atas 53 persen," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau