Ketika Pria Berperan Sebagai Ayah

Kompas.com - 02/07/2010, 14:00 WIB

KOMPAS.com - Kelahiran bayi dalam sebuah keluarga menjadi anugerah. Peran ayah tak kalah penting dengan ibu dalam merawat dan mengasuhnya. Apalagi pada enam minggu pertama sejak kelahiran, saat bayi sangat membutuhkan bantuan dan perhatian ayah-ibunya.

Butuh kesabaran dan kerja keras dengan ketulusan dan suka cita untuk menjalani masa tak terlupakan ini, tentu saja dengan kondisi Anda dan suami memutuskan mengurus sendiri tanpa bantuan pengasuh bayi. Sudahkah suami Anda berperan besar membantu Anda mengurus bayi? Berikut tanda-tandanya:

Bangun di malam hari dan tidur lelap di sela waktu
Waktu tidur Anda dan suami berubah drastis saat mengalami masa menjadi orangtua untuk pertama kalinya. Bayi yang terbangun di malam hari, entah perlu berganti popok atau lapar dan haus, membuat Anda dan suami berganti peran mengurusnya. Jika suami menjalankan peran ini, beruntunglah Anda sebagai ibu dan istri. Dan maklumi saja jika, di siang hari atau saat ada waktunya di hari libur, suami memanfatkan waktu untuk tidur, bergantian dengan Anda tentunya. Baik Anda dan suami memang harus membiasakan diri untuk memanfaatkan kesempatan untuk tidur.

Menjadi egois
Menempatkan kebutuhan bayi sebagai prioritas utama adalah fokus Anda dan suami pada masa ini. Suami yang memainkan perannya sebagai ayah, akan dengan mudah mengatakan "tidak" kepada teman atau relasi yang mengajaknya berkegiatan saat energi sudah terkuras. Dia akan lebih memilih bersama Anda dan buah hati.

Siap sedia berurusan dengan popok
Bayi bergantung pada orangtuanya untuk makan, minum, mandi, berganti pakaian, dan berganti popok. Suami perlu terlibat memainkan perannya, dan harus siap berurusan dengan semua kebutuhan buah hati. Karena urusan ini juga menjadi tanggungjawab sebagai ayah, yang mendukung ibu paska melahirkan.

Filter informasi
Sebagai orangtua baru, Anda akan banyak menerima masukan dari teman dan keluarga. Maksud mereka tentu saja baik, berbagi pengalaman. Namun setiap keluarga memiliki karakter dan kebutuhan berbeda, termasuk seberapa besar peran ayah. Coba kenali peran suami, apakah dia rajin mencari informasi, atau bahkan mencari referensi bacaan untuk menjadi ayah? Jika iya, ajak juga diskusi karena semua informasi yang didapatkan perlu disaring sesuai kondisi keluarga Anda di rumah.

Tak lagi gengsi
Bayi Anda akan membutuhkan waktu bersama ibunya, untuk menyusui atau lainnya. Jika persediaan popok habis, suami yang belajar berperan sebagai ayah takkan sungkan mengambil peran. Misalnya berbelanja kebutuhan bayi di supermarket. Antre di kasir dengan tumpukan popok bukan hal yang membuatnya malu, justru bangga berperan sebagai ayah dari buah hatinya.

Menjalani peran tanpa beban
Suami tak terlalu menganggap serius, apalagi menjadikan peran ayah sebagai beban. Ini pertanda baik. Dia menyelipkan suka cita dan humor di dalam perannya sebagai ayah. Artinya suami menyenangi perannya, dan sepenuh hati menjalankan tanpa beban atau paksaan. Peran seperti inilah yang dibutuhkan, karena bagaimanapun peran lengkap dari ayah dan ibu di masa awal pertumbuhan anak akan mempengaruhi bagaimana buah hati bertumbuh nantinya. Suami menikmati peran sebagai orangtua muda, mengurus semua kebutuhan bayi bersama. Anda dan suami akan merindukan masa ini ketika anak sudah dewasa nantinya, saat mereka mandiri dan tak lagi bergantung kepada orangtuanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau