Kinkaku

Paviliun Berlapis Emas

Kompas.com - 02/07/2010, 17:03 WIB

BUKIT penuh pepohonan yang rindang dengan suasana yang sejuk adalah tempat istirahat yang ideal. Apalagi, jika tempat istirahat itu berada di tengah kolam yang luas.

Pemandangan hijau dari lebat pepohonan dan udara sejuk ini yang memanjakan para wisatawan saat ke kuil berumur ratusan tahun bernama Kinkaku di Kyoto, Jepang.

Kinkaku yang juga dikenal dengan nama Kuil Rokuon-ji tidak hanya sekadar paviliun di atas bukit yang didirikan di tengah kolam. Kinkaku adalah paviliun yang dilapisi cat berbahan emas yang mengilap ketika diterpa sinar matahari. Tidak setiap orang bisa menempati paviliun ini karena memang hanya dirancang untuk para shogun di Kyoto.

Shariden adalah nama lain bagi Kinkaku, sebuah paviliun yang didirikan di sebuah bukit di Kinkakuji-cho, Kita-ku, Kyoto, Jepang, pada 1220. Kendati sudah berumur 790 tahun, arsitekturnya tetap anggun disaksikan seperti terlihat pada Rabu (10/6/2010).

Kinkaku adalah salah satu situs yang masuk dalam warisan budaya dunia sejak tahun 1994 karena keunikannya.

Paviliun ini beberapa kali hampir roboh dan mesti ditata ulang karena beban lapisan emas yang berat.

Setiap hari, ribuan wisatawan dari berbagai belahan dunia bergantian mengunjungi situs ini. Umumnya, wisatawan kagum terhadap rancangan bangunan yang memang asri, ditambah pula dengan lapisan cat emas.

Di Kyoto, Kinkaku menjadi salah satu referensi pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Tak heran, banyak pelajar dari sekolah-sekolah berbeda yang mencoba mempelajari sejarah dengan datang langsung ke situs ini.

Menurut catatan sejarah di Kyoto, Kinkaku pada awalnya merupakan paviliun untuk Kintsune Saionji (1171-1244), keturunan aristokrat di Kyoto. Pada tahun 1397, paviliun itu disempurnakan oleh Yoshimitsu, shogun ke-3 dari Ashikaga, dan menamai kawasan itu Kitamayaden. Setelah kematian Yoshimitsu, Kitamayaden lalu menjadi kuil Zen.

Kinkaku terdiri dari tiga lantai, setiap lantai memiliki fungsi sendiri-sendiri. Lantai pertama, yang juga disebut dengan Ho-sui-in, menyerupai istana untuk menerima tamu-tamu penting. Lantai kedua adalah rumah samurai yang sering disebut Cho-on-do. Lantai ketiga atau lantai terakhir bangunan itu dibuat menyerupai Kuil Zen.

Bangunan lantai tiga berlapis emas itu bukanlah satu-satunya yang menarik perhatian di kawasan ini. Tak jauh dari Kinkaku, berdiri sebuah patung batu kecil dan sebuah cekungan di depannya. Timbul kepercayaan di masyarakat Kyoto, permohonan mereka akan terkabul jika berhasil melemparkan uang yen ke cekungan di depan patung dari luar pagar sejauh sekitar satu meter. Itulah sebabnya, ribuan keping uang koin bertebaran di sekitar patung itu dan uniknya tidak ada seorang pengunjung pun yang berani mengambil pecahan uang yen tersebut.

Tak mengherankan kalau Kyoto berhasil menyedot perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia. Ternyata, Kinkaku hanyalah satu dari belasan warisan budaya dunia yang ada di Kyoto.

Kiyomizu-Dera adalah situs warisan budaya dunia yang juga amat terkenal di Kyoto. Kiyomizu-Dera, sebuah kuil Buddha terletak di Otowa, sebuah gunung yang ada di timur Kyoto.

Marnnari (30), wisatawan asal Ghana, mengaku takjub dengan Kiyomizu-Dera karena bangunan utamanya yang tak dipasak dengan paku. ”Mengherankan, bangunan ini kokoh meski balok-balok kayu hanya dikaitkan satu dengan yang lain. Apalagi, Kyoto terlihat sangat indah dari atas sini. Rasanya ingin lebih lama tinggal di sini,” ujar Marnnari yang datang bersama beberapa temannya dengan tatanan rambut gimbalnya.

Bangunan yang dimaksud Marnnari adalah Hondo, kuil dengan pilar-pilar kayu besar dan kokoh. Strukturnya memang kokoh kendati tidak dipaku seperti layaknya bangunan-bangunan kayu lainnya. Kuil ini dibangun pada tahun 780 dan direnovasi pada tahun 1633 untuk menghormati Kannon Bosatsu, Dewa Kemurahan Hati.

Kiyomizu-Dera sebetulnya merujuk pada sumber air di bawah Hondo. Kiyomizu adalah air murni. Kini, sumber air yang tak pernah mati sepanjang musim itu dipercaya menjadi semacam perantara permohonan.

Dua warisan budaya dunia ini sangat mudah dijangkau, sama seperti situs wisata lainnya di Kyoto. Pasalnya, pemerintah setempat merancang jalur transportasi wisata yang murah dan terintegrasi. (Agustinus Handoko)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau