AS Incar Mineral Afganistan

Kompas.com - 03/07/2010, 03:08 WIB

New York, Jumat - Kongres Amerika Serikat memperjuangkan tambahan dana 33 miliar dollar AS (sekitar Rp 30 triliun) untuk anggaran perang tahun 2010. Pada saat yang sama, New York Times mengungkap adanya temuan mineral tak ternilai di Afganistan yang belum dimanfaatkan.

New York Times menulis, mineral berharga ditemukan di daerah selatan dan timur Afganistan yang berbatasan dengan Pakistan. Kawasan itu merupakan lokasi pertempuran hebat melawan militan Taliban.

Jerry Mazza, penulis lepas di New York, mengungkap, cadangan deposit mineral di Afganistan bernilai sekurangnya 1 triliun dollar AS. ”Cadangan mineral Afganistan dapat mengubah masa depan negara itu dan jalannya perang,” ujar seorang pejabat AS yang dikutip Jerry Mazza.

Mineral berharga tersebut mencakup temuan urat besi, tembaga, kobalt, emas, dan mineral langka, seperti litium dan sejumlah unsur lain yang sangat diperlukan bagi industri modern. Temuan itu menyebabkan Afganistan menjadi pusat pertambangan terpenting di dunia.

Jerry Mazza mempertanyakan tentang pengungkapan fakta temuan mineral di saat Partai Demokrat menyatakan keberatan terhadap perang di Irak dan Afganistan. ”Perang di dua negara itu telah menguras dana lebih dari 1 triliun dollar AS. Dana keseluruhan yang terkuras mencapai 3 triliun dollar AS,” Mazza menerangkan.

Saat jumlah utang AS mencapai 13 triliun, AS tidak dapat lagi membiayai perang di Irak dan Afganistan.

Mazza menegaskan, kini saatnya bagi Kongres menambah biaya perang dan memulangkan para prajurit dengan selamat.

Mazza menyarankan AS untuk mengalokasikan dana bagi jaminan sosial dan kesehatan serta berhenti membunuh manusia lewat perang.

Penangkapan Bin Laden

Memo Pentagon mengungkap cadangan litium Afganistan bisa menjadikan negeri itu kaya raya. Pengembangan pertambangan diharapkan dapat mengalihkan perhatian generasi muda Afganistan dari berperang dan mereka memilih untuk bekerja.

Cara itu, menurut Jerry Mazza, adalah sebuah solusi menghentikan perang. ”Ini hanya sekadar mengalihkan target dari semula mengejar Osama bin Laden yang sudah buron sembilan tahun. Militer AS sepertinya membiarkan Osama lolos saat sudah tersudut di Tora Bora. Osama lebih berharga menjadi buronan bagi para politisi daripada menangkapnya dalam keadaan tewas,” kata Mazza.

Pemerintah AS dinilai mencari pembenaran terhadap teroris di Afganistan di balik ambisi untuk menguasai mineral berharga. Presiden AS Barack Obama pada satu kesempatan diketahui mengatakan, orang-orang Afganistan datang ke AS untuk serangan 11 September 2001. Padahal, FBI menyatakan, 15 dari 19 buronan teroris serangan 9/11 adalah warga Arab Saudi.

(AFP/AP/REUTERS/ONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau