Piala dunia 2010

Jangan Sedih Gyan, Maradona Pun Pernah Gagal

Kompas.com - 03/07/2010, 06:05 WIB

JOHANNESBURG, Kompas.com — Asamoah Gyan pasti merasa sangat bersalah karena gagal mengeksekusi penalti di menit ke-120, ketika Ghana melawan Uruguay di perempat final Piala Dunia 2010, Jumat (2/7/10) malam atau Sabtu (3/7/10) dini hari WIB, di Stadion Soccer City, Johannesburg. Padahal, seandainya dia sukses menjebol gawang Fernando Muslera di pengujung babak tambahan itu, maka Ghana sudah pasti melangkah ke semifinal.

Ya, penalti tersebut menjadi peluang emas "The Black Stars" untuk mencatat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang melangkah ke semifinal Piala Dunia. Sayang, bola eksekusi Gyan membentur mistar gawang dan memantul keluar sehingga skor akhir tetap 1-1. Duel pun dilanjutkan dengan adu penalti untuk menentukan siapa yang meraih tiket menuju babak empat besar.

Ternyata, dalam drama tendangan 11 meter ini, Uruguay yang meraih sukses. Dari lima penendangnya, "Albiceleste" sukses mencetak empat gol, sedangkan dua eksekutor Ghana gagal menjaringkan bola ke gawang Uruguay karena berhasil dihalau Muslera. Skor adu penalti berakhir 4-2 untuk Uruguay.

Meskipun demikian, Gyan tak seharusnya putus asa dan berkecil hati. Sebab, pada beberapa Piala Dunia episode sebelumnya, para bintang top di jagad sepak bola ini juga pernah melakukan hal serupa, yaitu gagal mengeksekusi penalti.

Berikut daftar tendangan penalti yang gagal:

1. Diego Maradona (Argentina) - Maradona gagal mencetak gol ketika menjadi algojo tendangan penalti di perempat final melawan Yugoslavia pada Piala Dunia 1990. Tendangannya terlalu lemah sehingga bisa diselamatkan oleh penjaga gawang Tomislav Ivkovic. Tetapi, Argentina menjadi pemenang dalam adu penalti ini dengan skor 3-2.

2. Michael Platini (Perancis) - Platini gagal mencetak gol saat melawan Brasil di perempat final Piala Dunia 1986. Tetapi, Perancis menjadi pemenang adu tendangan penalti itu dengan skor 4-3.

3. Socrates (Brasil) - Socrates mempertahankan kebiasaannya ketika mengeksekusi penalti. Ternyata, kiper Perancis, Joel Bats, sudah mempelajarinya sehingga dengan jitu membaca arah tendangan Socrates. Ini terjadi ketika Perancis kalahkan Brasil di perempat final Piala Dunia 1986.

4. Zico (Brasil) - Kiper Perancis, Joel Bats, juga menyelamatkan gawang ketika Zico mengeksekusi tendangan penalti pada babak kedua pertandingan perempat final Piala Dunia 1986.

5. Roberto Baggio (Italia) - Baggio gagal mencetak gol dalam drama adu penalti melawan Brasil di final Piala Dunia 1994. Tendangan bintang sepak bola Italia ini melambung jauh di atas mistar gawang. Brasil menang dengan skor 3-2 dan menjadi juara dunia untuk keempat kalinya.

6. Franco Baresi (Italia) - Baresi jadi eksekutor pertama dalam drama adu penalti melawan Brasil di final Piala Dunia 1994. Tendangan bek legendaris Italia ini melambung di atas mistar gawang. Brasil menang 3-2 dan jadi juara dunia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau