Dampak ledakan tabung gas

Minyak Tanah Tidak Meledak Tapi Mencekik

Kompas.com - 04/07/2010, 15:20 WIB

PEKANBARU, KOMPAS.com - Sebagian besar masyarakat Pekanbaru yang menggunakan tabung gas paket konversi kembali beralih ke minyak tanah, karena takut meledak seperti yang marak terjadi di Pulau Jawa.

"Awalnya memang saya menggunakan kompor dan tabung gas pemberian pemerintah tersebut. Tetapi sejak satu bulan terakhir, saya kembali menggunakan kompor minyak," jelas Gusniawati, warga Marpoyan Damai, Pekanbaru, Minggu (4/7/2010).

Menurutnya, maraknya berita mengenai meledaknya tabung gas membuat dirinya takut menggunakannya. Walaupun, sebagian pihak mengatakan, ledakan disebabkan buruknya kualitas selang.

"Memang saya sudah menggantinya dan membeli sesuai dengan kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) baik selang maupun regulatornya. Tetapi tetap saja takut menggunakannya," ujarnya.

Ungkapan senada juga disampaikan Iyang, warga Jalan Lele, Marpoyan Damai, yang mengatakan, ia tetap menggunakan kompor minyak. Walaupun saat ini harga minyak tanah makin mencekik mencapai Rp 7.000 perliternya.

"Sejak diberikan, saya belum memakainya. Takut meledak, seperti yang diberitakan di televisi," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru, Suraji, mengimbau agar pengguna gas tetap menggunakan kompor yang telah diberikan dalam program konversi tersebut.

Pengguna kompor gas harus mematuhi peraturan dalam menggunakan gas. Menurut dia, sebelum program konversi dilangsungkan, pihaknya sudah memberikan sosialisasi cara penggunaan kompor gas yang aman.

"Sejauh ini di Pekanbaru belum ditemukan adanya ledakan. Kita berharap, agar seterusnya tidak terjadi ledakan akibat tabung gas," harap Suraji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau