Cape Town, Kompas -
Dari performa keempat tim di perempat final, Jerman paling meyakinkan lewat kemenangan telak 4-0 atas Argentina. Tim asuhan Joachim Loew itu memikat banyak kalangan dan kini diunggulkan juara. Pertemuan melawan Spanyol, Rabu mendatang, merupakan ulangan sekaligus ajang balas dendam mereka atas kekalahan 0-1 di final Piala Eropa 2008.
”Dulu saya menjagokan Brasil juara, tetapi setelah Brasil tersingkir dan melihat dahsyatnya penampilan Jerman saat memukul Argentina, Jerman pantas jadi juara,” kata Anwar, warga Cape Town, kepada wartawan Kompas,
Empat dari 11 pemain starter melawan Argentina adalah para pemain yang setahun lalu menjuarai Piala Eropa U-21, yakni kiper Manuel Neuer, Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Jerome Boateng. Satu lagi darah muda Jerman yang sangat cemerlang penampilannya adalah gelandang serang Thomas Mueller (20).
Mueller, pencetak gol pembuka kemenangan atas Argentina, merupakan produk binaan Bayern Muenchen yang melejit pesat kemampuannya selama Piala Dunia 2010. Ia mulai ditempa Muenchen pada usia 10 tahun di bawah legenda sepak bola Jerman, Gerd Mueller. Sejak Maret lalu ia menyandang status pemain tim nasional setelah melewati hierarki sistematis level U-16, 17, 18, 19, dan U-21.
Pemain muda lainnya, Khedira, misalnya, telah membuktikan diri mampu mengisi posisi kapten Michael Ballack yang absen karena cedera. Ditambah perpaduan kerja sama dengan Mueller dan Oezil, pemain muda Jerman itu tinggal membutuhkan satu-dua sentuhan pemain senior dalam memanen gol demi gol. Dua gol lainnya ke gawang Argentina dicetak striker Miroslav Klose (32) dan satu gol dari bek Arne Friedrich (31).
”Tim ini terlihat sangat menghibur dan itu menjadi fondasi sepak bola mereka yang atraktif. Dan Jogi (Loew) melakukan tugas luar biasa,” puji Juergen Klinsmann, mantan Pelatih Jerman dan bos Loew di Piala Dunia 2006, seperti dikutip Reuters.
Kemampuan Loew membaca permainan lawan juga tajam. Saat timnya menghadapi Argentina, ia mencermati para penyerang lawan—Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Carlos Tevez, dan Angel Di Maria—enggan turun ke bawah membantu pertahanan. ”Hal itu memberikan celah dan ruang bagi lawan yang bisa menyerang balik secara cepat,” papar Loew.
”Saya sampaikan kepada para pemain saya: kalian lebih muda, lebih cepat, dan lebih punya daya tahan fisik. Kami mampu terus menekan pertahanan Argentina dan menghancurkannya.”
Visi semacam itu tidak dimiliki arsitek Argentina, Diego Maradona, mantan megabintang yang tidak memiliki sertifikat kepelatihan dan monoton dalam merancang permainan anak didiknya.
Permainan rancangan Loew juga jauh lebih menghibur daripada racikan Pelatih Brasil Dunga, misalnya, yang bersikeras dengan gaya pragmatis. Permainan bertahan, mengandalkan serangan balik dengan memanfaatkan kesalahan lawan, telah mengubur Brasil lewat kekalahan 1-2 dari Belanda.
Dibanding Spanyol, Jerman di bawah Loew juga menjanjikan. Sebelum melumat Argentina, tim ”Panser” juga menggilas tim favorit Inggris 4-1. Spanyol memang bagus dalam umpan dan penguasaan bola, tetapi sejauh ini mereka tertatih-tatih mencetak gol, seperti terlihat saat mengalahkan Paraguay 1-0.
”Saya berulang kali melihat laga mereka (Spanyol) melawan Paraguay. Itu laga hebat, tetapi memperlihatkan bahwa Spanyol bukannya tim yang tidak bisa ditaklukkan. Kami harus menjabarkan kelemahan-kelemahan mereka dan kemudian mengeksploitasinya,” kata Klose, striker yang telah 100 kali tampil di tim nasional dan mencetak 14 gol di tiga Piala Dunia—menyamai rekor Gerd Mueller dan terpaut satu gol dari rekor Ronaldo (Brasil)—pada Minggu kemarin.
Saat menghadapi Spanyol, tugas berat Loew adalah mencari pengganti yang sepadan atas absennya Mueller. Loew menyatakan telah menyiapkan pengganti Mueller. Loew telah mengantisipasi itu.
”Saya tidak berusaha mencari taktik yang cocok dengan para pemain yang saya miliki,” katanya. ”Saya butuh pemain yang bisa menerapkan taktik dan visi sepak bola saya, yang ingin saya lihat di lapangan dan begitulah saya menyeleksi pemain.”
Dari laga-laga Jerman yang sudah berjalan, praktis absennya satu pemain tidak banyak memengaruhi performa tim. Transisi itu berjalan mulus di tubuh skuad Loew. Tanpa Ballack, Jerman tetap mulus ke semifinal. Saat Klose absen melawan Ghana, Cacau tampil meyakinkan untuk andil memenangi laga 1-0.
Ketika bek kiri Holger Badstuber berhalangan, Jerome Boateng tampil memukau. Menjelang laga melawan Spanyol, tanpa diperkuat Mueller, Loew memiliki banyak opsi, seperti menempatkan Stefan Kiessling di sayap atau memberi striker Mario Gomez peran seperti yang dijalankan Mueller.