KOMPAS.com — Belanda dan Uruguay merupakan semifinalis paling mengejutkan dengan alasan yang berbeda pada Piala Dunia 2010. "Oranje" lolos setelah menaklukkan juara dunia lima kali, Brasil, dan "La Celeste" melewati pertarungan dramatis untuk memelihara asa mengulangi sejarah 60 tahun silam, ketika terakhir kali mengangkat trofi pergelaran paling bergengsi antarnegara di dunia ini.
Sekarang, dua negara itu harus "berperang" untuk meraih satu tiket ke partai final. Stadion Cape Town di Afrika Selatan akan menjadi saksi pertarungan tersebut, Selasa malam atau Rabu (7/7/2010) dini hari WIB.
Dihuni pemain-pemain dengan bakat yang luar biasa, Belanda telah memperlihatkan penampilan yang impresif sehingga mereka kembali melangkah ke semifinal sejak melakukannya pada Piala Dunia 1998. Namun, kali ini "The Flying Dutchmen" mencapai babak empat besar dengan penampilan yang mengagumkan karena bisa menyingkirkan Brasil 2-1, Jumat (2/7/2010).
Dalam pertarungan yang ketat itu, "Oranje" bisa bangkit dari ketertinggalannya. Setelah Robinho menjebol gawang Maarten Stekelenburg pada menit ke-10, pasukan "Negeri Kincir Angin" ini membalikkan keadaan pada paruh kedua. Wesley Sneijder memborong gol kemenangan Belanda, termasuk tendangannya pada menit ke-68 yang dibelokkan oleh gelandang Felipe Melo.
Penampilan impresif yang berujung kemenangan hingga akhirnya menembus semifinal ini membuat kepercayaan diri tim meningkat. Namun, Pelatih Bert van Marwijk tahu, mereka masih perlu dua pertandingan lagi untuk mengakhiri penantian panjang merengkuh gelar pertama Piala Dunia (Belanda hanya jadi finalis pada Piala Dunia 1974 dan 1978).
"Sebelumnya, kami telah membuktikannya," ujar Van Marwijk. "Mengingat dua tahun lalu di Austria dan Swiss, kami mengalahkan Italia dan Perancis dan semua orang sudah berpikir kami akan jadi juara Eropa.
"Tetapi nyatanya, kami bahkan tidak mencapai perempat final karena kami berpikir kami sudah berada di sana. Itulah yang saya sudah coba untuk meyakinkan bahwa ini harus berbeda."
Namun dalam laga krusial ini nanti, Van Marwijk harus membuat dua perubahan di susunan pemain, menyusul akumulasi kartu kuning kepada gelandang Nigel de Jong dan bek Gregory van der Wiel. Joris Mathijsen tampaknya akan mengisi posisi van der Wiel setelah dia absen di perempat final akibat cedera.
Di sisi lain, Uruguay juga sedang memiliki semangat yang luar biasa. Selain sebagai satu-satunya wakil dari Amerika Selatan yang tersisa pada babak empat besar, "La Celeste" juga ingin mengulangi sejarah terindahnya ketika jadi juara dunia tahun 1930 dan 1950.
Satu kenangan indah sudah digapai, yaitu untuk pertama kalinya menuju semifinal sejak 1970. Tempat pada babak empat besar ini diperoleh dengan cara yang sangat dramatis dan perlu pengorbanan yang luar biasa ketika melawan Ghana pada perempat final, Jumat malam atau Sabtu (3/7/2010) dini hari WIB.
Striker Luis Suarez rela bermain "kotor" dengan menangkap bola yang seharusnya sudah masuk ke gawang, saat pertandingan memasuki detik-detik akhir. Pelanggaran itu berbuah hukuman yang setimpal. Suarez diganjar kartu merah dan Ghana mendapat tendangan penalti.
Ternyata, Asamoah Gyan yang menjadi eksekutor gagal menjalankan tugasnya karena bola tendangan striker "The Black Stars" ini membentur mistar gawang dan memantul keluar. Dengan demikian, skor pertandingan selama waktu normal plus perpanjangan 2 x 15 menit tetap imbang 1-1 sehingga dilanjutkan dengan drama adu penalti untuk menentukan siapa yang berhak menuju semifinal. Uruguay menjadi pemenang dengan skor 4-2.
Berbagai rintangan dan duel berat yang sudal dilewati membuat Uruguay semakin kuat. Pasukan "Biru Langit" tak ingin peluang di depan mata untuk meraih trofi sekaligus menyelamatkan muka Amerika Selatan pada Piala Dunia ini terbuang begitu saja.
"Kami adalah tim terakhir lolos dari kualifikasi dan kami harus memainkan 20 pertandingan untuk sampai di sini," ujar gelandang Diego Perez. "Melewati momen-momen sulit membuat kami lebih kuat dan itu sudah membantu kami untuk maju. Sekarang, kami akan berusaha untuk terus melangkah," ungkapnya.
Namun, optimisme yang membubung tinggi ini harus dibarengi kewaspadaan terhadap kekuatan lawan, apalagi Uruguay pasti kehilangan Suarez dalam partai sulit ini sehingga Diego Forlan akan menjadi harapan utama untuk menjebol gawang Belanda.
Dalam sejarah Piala Dunia, Uruguay dan Belanda baru satu kali bertemu. Pertarungan pada penyisihan grup Piala Dunia 1974 itu berakhir dengan skor 2-0 untuk "Oranje", yang akhirnya bisa melangkah ke final, sebelum ditaklukkan Argentina.
Nah, bagaimana dengan pertemuan nanti di Cape Town? Kita tunggu saja "perang" antara perwakilan Amerika Selatan dan Eropa ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang