Kabid humas polda metro jaya

Jalur Sepeda di DKI Sangat Mendesak

Kompas.com - 05/07/2010, 11:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kebutuhan terhadap sarana jalur sepeda di wilayah DKI Jakarta dirasa sudah sangat mendesak. Polda Metro Jaya siap membantu kebijakan Pemerintah Provinsi DKI dalam menggalakkan program bersepeda tersebut.

"Indikasinya bisa dilihat dari jumlah peserta di DKI yang ikut Fun Bike Bhayangkara ini. Dari data yang kami terima jumlah peserta sebanyak 31.000 orang," ucap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar di sela-sela acara Fun Bike Bhayangkara ke-64 di Monas, Minggu (4/7/2010) pagi.

Dengan angka peserta fun bike yang sudah mencapai puluhan ribu itu, sudah sepatutnya pemerintah daerah setempat menurutnya menyediakan kawasan jalur sepeda. Tentunya, untuk penyediaan sarana jalur sepeda perlu koordinasi antarinstansi terkait sehingga jalur sepeda yang dibangun tertata dengan apik.

Penyediaan kawasan jalur sepeda, kata Boy, tentu sangat mengakomodasi kebutuhan para goweser di Jakarta. Bukan cuma itu, komunitas pencinta sepeda akan semakin menjamur seiring tersedianya sarana dan prasarana bersepeda.

Menurut Boy, soal kebutuhan jalur sepeda ini sudah pernah dibicarakan antara Pemprov DKI dan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Warga masyarakat yang jarak tempat tinggal dan tempat kerjanya antara 10 dan 20 km saat ini sudah banyak yang menggunakan sepeda.

"Tentunya pihak yang menyediakan sarana jalur sepeda dari pemprov, sementara kami dari pihak kepolisian membantu dalam hal pengaturan jalur," ucap Boy.

Kegiatan Fun Bike Bhayangkara lebih kurang diikuti 247.000 pesepeda dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Boediono yang didampingi oleh Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Kegiatan ini juga mengumpulkan lebih kurang 150.000 batang pohon yang akan ditanam untuk pekan penghijauan.

Pemprov lamban

Ferdinand (27), warga Blok M, Jakarta Selatan, salah satu peserta Fun Bike Bhayangkara se-Indonesia berharap, Pemprov DKI jangan lamban dalam menyediakan kebutuhan para biker, khususnya jalur sepeda.

"Di Jakarta sudah banyak sekali yang naik sepeda, tapi sayangnya sarana   bersepeda belum ada sama sekali. Menurut saya sudah sangat mendesak sekali dibuat jalur khusus sepeda," ucap Ferdinand.

Menurut Ferdinand, bersepeda banyak manfaatnya. Selain menyehatkan tubuh, dengan menggowes sepeda, polusi udara bisa diminimalkan sebab bersepeda ini merupakan kegiatan yang ramah lingkungan.

"Dengan bersepeda berarti kita juga ikut mendukung program pemerintah terkait go green," ujarnya.

Di berbagai kesempatan, Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan, masih perlu waktu dan studi kelayakan mengenai pembuatan jalur sepeda di DKI. Keterbatasan ruang jalan yang ada di Jakarta menjadi salah satu pertimbangan pemprov untuk menyediakan jalur khusus untuk pesepeda.

Pemprov DKI juga merasa harus melihat seberapa besar tuntutan pembuatan jalur sepeda itu dikaitkan dengan jumlah pengguna sepeda di jalan raya. Jika jumlahnya belum signifikan, maka para pengguna sepeda dapat menggunakan fasilitas jalan yang ada dan berbagi dengan pengguna jalan lainnya. (ded)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau