Pelatih

Berita Maradona Simpang Siur

Kompas.com - 07/07/2010, 05:34 WIB

BUENOS AIRES, SENIN — Pelatih Argentina Diego Maradona dikabarkan akan berhenti melatih skuad Argentina. Namun, Asosiasi Sepak Bola Argentina dan rekan-rekan dekat Maradona menyanggah informasi berhentinya pelatih eksentrik Argentina tersebut.

Ini telah berakhir, babak saya telah selesai. Saya telah memberikan apa pun yang saya punya,” demikian pernyataan Maradona, seperti dikutip surat kabar Cronica dua hari setelah Argentina ditundukkan Jerman 4-0 di perempat final.

Juru bicara Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) mengatakan, Maradona secara resmi belum mundur. Presiden AFA Julio Grondona bahkan berencana bertemu dengannya setelah Piala Dunia selesai. Kini Grondona dilaporkan sedang berada di Afrika Selatan, tetapi tak jelas waktu dan lokasi Grondona akan bertemu Maradona.

Rencananya, Maradona akan memutuskan diri pada pertemuan dengan Grondona. Presiden AFA ini pula yang memberikan pekerjaan kepadanya sebagai Pelatih Argentina pada Oktober 2008 lalu.

Beberapa teman dekat Maradona mengaku belum bisa mengonfirmasi kabar pengunduran diri Maradona. Asisten Maradona sekaligus mantan pemain tim internasional, Alejandro Mancuso, yakin bahwa Maradona akan lanjut sebagai Pelatih Argentina.

”Sepengetahuan saya tentang Diego, sulit baginya untuk mundur begitu saja setelah tak mampu mencapai kemenangan di Piala Dunia. Kami tak dapat mengabaikan semua hal baik yang telah dia lakukan,” kata Mancuso.

Kini Argentina harus kembali dibuyarkan dengan perdebatan apakah tetap akan mempertahankan Maradona sebagai pelatih tim nasionalnya atau tidak.

Desakan berhenti

Di beberapa jajak pendapat online yang diselenggarakan koran-koran besar Argentina, sebagian besar responden mengatakan bahwa Maradona harus berhenti. Namun, Maradona—yang berangkat dari kalangan masyarakat pinggiran yang kemudian membawa Argentina juara Piala Dunia tahun 1986 serta menjadi pelatih sejak 2008 ini—masih memiliki banyak pendukung

Maradona kembali ke Buenos Aires bersama dengan sisa-sisa timnas, Minggu (4/7), sehari setelah Jerman memupuskan harapan Argentina lolos ke babak semifinal. ”Sudahlah, siklus saya telah selesai,” ujarnya saat tiba di rumah.

Ribuan pendukung menyambut Maradona dan tim nasional Argentina di bandar udara, Minggu (4/7), sambil menyerukan nama Maradona. ”Bagiku, Maradona hebat. Dia punya banyak pengalaman bermain di Piala Dunia. Apa yang tak ia ketahui tentang melatih dia dapatkan melalui keberanian dan hal-hal mistik. Dia pelatih terbaik bagi kami,” kata Enrique Gonzales (40), salah seorang pendukung.

Sementara pihak lain berpikir bahwa Maradona, yang hanya melewati dua pelatihan singkat sebelum melatih skuad Argentina, jelas tak punya mandat. ”Dia pemain terbaik, tetapi tak siap sebagai pelatih,” kata Jose Parra (40), seorang pekerja pabrik.

Sebagai Pelatih Argentina, Maradona memiliki kesepakatan dengan AFA hingga 2011, tepat saat Argentina menjadi tuan rumah Copa Amerika. Pejabat senior AFA, Luis Segura, mengatakan, kontrak Maradona otomatis diikuti perpanjangan jabatannya sebagai pelatih yang dilanjutkan hingga Copa Amerika tahun 2011 mendatang.

”Yang memutuskan untuk lanjut atau tidak adalah Maradona,” kata Segura.

Kepada publik, Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner setuju bahwa Maradona tetap bertahan. ”Tetaplah di sana, Diego. Tak ada warga Argentina yang mampu memberikan kebahagiaan di lapangan sepak bola seperti Diego Maradona,” ujar Presiden Cristina Fernandez.

Maradona beserta timnya sempat diundang Presiden ke Pink House, istana kepresidenan Argentina. Namun, mereka menolak undangan tersebut karena merasa tak layak.

”Mereka menolak datang karena menganggap undangan ini sebagai penghargaan dan mereka merasa tak pantas. Namun, saya percaya bahwa mereka semua pantas mendapatkannya. Saya akan menunggu mereka,” kata Cristina Fernandez.

Presiden sebenarnya telah memanggil Maradona akhir pekan lalu. Namun, legenda sepak bola itu tak sanggup berbicara karena menangis akibat diliputi kesedihan mendalam.

Di tengah isu pengunduran diri, Maradona kini sedang menghadapi masalah keuangan serius. Ia dihantui utang hampir 40 juta euro yang hingga saat ini belum terbayar, termasuk seluruh bunganya.

(REUTERS/AP/ABK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau