JAKARTA, KOMPAS.com - Ketidakmaksimalan pelayanan bus transjakarta diduga akibat tidak meratanya harga bahan bakar gas (BBG) yang menjadi bahan bakar bus transjakarta. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meminta harga BBG untuk disamaratakan atau ditetapkan standarisasi.
"Saat ini ada kendala BBG karena harga BBG yang beredar itu berbeda-beda. Sementara kami tidak berani beli harga yang lebih mahal, karena tidak ada landasan hukumnya. Nanti pasti akan ditanyakan," ujar Kepala Dinas Perhubungan Darat DKI, Endar Sunugroho, Kamis (7/7/2010), di Jakarta.
Harga BBG bus transjakarta yang disepakati dengan operator, yakni Rp 2.562 per lsp. Namun, di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBBG), harga BBG mencapai Rp 3.600 per lsp.
Menurut Endar, sopir pun jadi tidak berani membeli harga BBG yang lebih mahal, sehingga terpaksa harus mengantri di empat SPBBG yang ada di Jakarta. Keempat SPBBG tersebut berada di pool Perintis Kemerdekaan, Rawa Bunga, Jalan Pemuda, dan Jalan Daan Mogot.
"Dengan begitu antrian pun terjadi. Headway antar kendaraan juga semakin lama dan antrian penumpang juga makin padat," ujar Endar kepada para wartawan.
Masalah BBG itu juga berujung pada sering rusaknya mesin bus transjakarta karena yang tadi seharusnya sehari dua kali menjadi sehari sekali karena padatnya antrian BBG.
"Boleh saja berbeda-beda asalkan ada dasar hukumnya," ujar Endar.
Gubernur DKI Jakarta hingga kini masih memperjuangkan standardisasi harga BBG dengan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan Pehubungan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang