Wisata

Menyatukan Poros India Afrika Selatan

Kompas.com - 08/07/2010, 16:27 WIB

LETAKNYA sekitar 25 kilometer sebelah utara pusat kota Durban, Afrika Selatan. Yang satu adalah peninggalan pejuang gerakan antikekerasan, Mahatma Gandhi; yang lain warisan Pendeta Dr John Langalibalele Dube, Presiden Kongres Nasional Afrika pertama. Satu sama lain berjarak 2 kilometer dan ada benang merah yang mengikat: memberdayakan komunitas untuk hidup mandiri.

Phoenix Settlement adalah areal pertanian seluas 40 hektar yang ditempati Gandhi dan keluarganya sejak tahun 1904. Sebuah tempat yang dikenang cucu Gandhi, Sita, sebagai ”tempat yang sangat indah dan tidak memberlakukan hukum rasial”.

Di areal pertanian yang dikelilingi perkebunan tebu itulah, Gandhi menjalankan ajarannya satyagraha (perlawanan pasif) yang menjadi dasar gerakan keadilan, perdamaian, dan kesamaan hak. Dalam kehidupan eksperimen komunal ini setiap keluarga mendapatkan tanah lebih dari 8.000 meter persegi untuk dibudidayakan. Hasilnya, komunitas itu bisa mencukupi seluruh kebutuhan sendiri, seperti susu, bahan makanan, mentega, hingga ghee, dan mentega cair khas India.

Sementara itu, Ohlange Institute di Inanda—yang semula dikenal sebagai Ohlange Native Industrial Institute—didirikan Dube, tiga tahun sebelum Gandhi menempati pertanian mandirinya. Cita-citanya dari awal mencetak warga yang bisa berdiri sendiri.

Kemampuan akademik, menurut Dube—yang sangat dipengaruhi oleh Booker T Washington, pendiri Tuskegee Institute of Alabama, yang menerapkan konsep pendidikannya bagi warga kulit hitam Amerika Serikat—harus diimbangi dengan keterampilan praktis industri. Murid pun diajari membuat sepatu, baju, menguasai mekanik motor, pertanian, bahkan juga jurnalisme. Tak ketinggalan, yang ditekankan Dube—warga kulit hitam asal Zulu—adalah pembentukan watak.

”Gandhi dan Dube lantas bersahabat, saling menghormati, dan saling memberikan inspirasi,” kata Bongani Mthembu, petugas Kantor Wisata Inanda, yang bertugas di Gandhi’s Phoenix Settlement, Selasa (6/7/2010) siang.

Banyak kesamaan yang bisa ditemukan antara Gandhi dan Dube. Gandhi mendirikan Kongres India Natal tahun 1894, sedangkan Dube membantu pembentukan Kongres Penduduk Natal tahun 1900. Gandhi mulai mendirikan mingguan Indian Opinion— berbahasa Inggris, Gujarat, Hindi, dan Tamil— tahun 1903.

Di tahun yang sama Dube menerbitkan Ilange lasa Natal, mingguan berbahasa Inggris dan Zulu. Bahkan, mingguan Dube ini sempat diterbitkan bersama di satu percetakan dengan Indian Opinion, sebelum Dube membelinya sendiri untuk Ohlange Institute.

Dalam pertemuan tahunan Asosiasi Ilmuwan Lanjutan Inggris di Afrika Selatan, Gandhi terkesan dengan pidato Dube yang mengatakan, mengambil lahan dan hak orang Afrika yang ada di Natal, tanah kelahiran mereka, sama saja dengan mencerabut diri mereka dari akarnya. Ia pun melukiskan sosok Dube di Indian Opinion (2 September 1905) sebagai ”orang Afrika yang perlu dikenal”.

Rumah sederhana

Panas terik yang menyilaukan mata siang itu menimpa kawasan Gandhi’s Phoenix Settlement. Debu kekuningan beterbangan dan mendarat di sela-sela jendela rumah yang pernah ditempati Mahatma Gandhi. Rumah itu berukuran sekitar 10 meter x 15 meter. Beranda depannya berhadapan dengan halaman berkontur turun yang dihubungkan dengan undakan.

Bercat eksterior hijau di atas permukaan bergelombang dan interior putih, rumah itu sedang direnovasi. Ruangannya masih kosong. ”Kami segera mengembalikan benda-benda aslinya yang masih di gudang, seperti mesin cetak, yang dulu digunakan Gandhi mencetak surat kabar Indian Opinion,” kata Mthembu.

Secara keseluruhan rumah Gandhi ini sederhana. Kamar mandi disediakan di sisi kiri luar rumah. Untuk menampung air hujan, ditempatkan dua tangki besar yang menadah air dari talang hujan.

Rumah ini dibangun kembali tahun 2000. Lima belas tahun sebelumnya rumah ini dihancurkan dan diduduki komunitas Bhambayi, yang dikenal dengan ”kerusuhan Inanda 1985”. Areal seluas 40 hektar itu pun sempat dihuni 8.000 penghuni gelap.

Pada upacara pembukaan areal itu sebagai museum, pemimpin Bhambayi, Victor Gambushe, meminta maaf secara terbuka. ”Saya meminta maaf atas apa yang kami lakukan dengan mengambil alih lahan yang bukan milik kami. Saya harap arwah Mahatma Gandhi kini beristirahat dalam kedamaian,” ucap Gambushe.

Di Ohlange Institute, rumah John Dube berada satu halaman dengan kompleks sekolah yang dikelolanya. Sekolah itu sendiri kini memiliki murid sampai 1.200 orang dan masih tetap memberikan pendidikan keterampilan sebagai bagian integral dari pendidikan keseluruhan. ”Tetapi, kami akan mengurangi jumlah muridnya hingga separuh karena berkurangnya daya dukung finansial,” kata Mhtembu.

Di aula Ohlange Institute, terpajang foto raksasa pejuang pergerakan antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela tengah mengangkat kertas suara yang akan dimasukkan ke dalam kotak suara. Di depannya terdapat patung Mandela berukuran riil dengan sebuah kotak suara berwarna hitam.

Itulah untuk pertama kalinya pemilihan umum demokratis digelar setelah puluhan tahun Afrika Selatan dicengkeram belenggu pemerintahan apartheid. Pada pemilihan umum tahun 1994 yang fenomenal itu, Madiba—penyebutan kehormatan di sukunya—sengaja memilih untuk memberikan suara di sekolah itu sebagai penghormatan kepada Dube yang meletakkan dasar perjuangan demokrasi.

Seusai memberikan suara, Mandela berziarah ke makam Dr John Dube. Di depan batu nisan Presiden Kongres Nasional Afrika (ANC) pertama itu, Mandela berkata, ”Tuan Presiden, saya datang untuk melaporkan kepada Anda bahwa Afrika Selatan sekarang sudah merdeka.” (Fitrisia Martisasi dari Durban, Afrika Selatan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau