Penganiayaan aktivis icw

Petisi 28: Mirip Kekerasan Era Orde Baru

Kompas.com - 08/07/2010, 17:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Petisi 28 mengecam keras tindakan penganiayaan yang dialami aktivis ICW Tama S Langkun. Menurut inisiator Petisi 28 Adhie Massardhie, penganiayaan terhadap Tama menunjukkan masih adanya sisa-sisa gaya kekerasan yang lazim dilakukan para era Orde Baru.

"Kami mengutuk keras penganiayaan terhadap rekan Tama dari ICW, termasuk juga adanya insiden pelemparan molotov di kantor Tempo," kata Adhie Massardhie, di Jakarta, Kamis (8/7/2010).

Menurut Adhie, insiden ini seakan menguak kembali tabir kelam berbagai tindakan penculikan dan penganiayaan terhadap para aktivis prodemokrasi. Bahkan, menurutnya, kekerasan seperti yang terjadi belakangan ini bisa lebih berbahaya dibanding era Orde Baru.

"Bedanya, pada Orde Baru kekerasan terkontrol. Sekarang ini tidak terkontrol, susah mencari siapa yang bertanggung jawab. Sekarang ini seperti hukum rimba," terangnya.

Adhie menambahkan, rentetan kasus kekerasan yang dilatarbelakangi isu rekening mencurigakan perwira Polri ini semakin mempersulit posisi Polri. Menurutnya, Polri harus tegas membuktikan tidak ada keterlibatan anggotanya dalam kejadian tersebut. "Kalau menangkap teroris saja bisa, harusnya cuma kasus seperti ini mudah saja. Buktikan siapa pelakunya," tegasnya.

"Kami juga meminta Polri mengusut dan melindungi semua aktivis civil society yang mengurus kasus yang melibatkan penguasa," tambahnya.

Seperti diberitakan, pada dini hari tadi investigator ICW Tama S Langkun dianiaya oleh sejumlah oknum tak dikenal. Tama merupakan investigator ICW yang menyelidiki perkara rekening mencurigakan perwira Polri. Tama yang menderita luka bacokan benda tajam dirawat intensif di RS Asri, Jakarta Selatan, dan mendapat 29 jahitan di kepala.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau