PURUK CAHU, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, mengembangkan riam bebatuan di pedalaman Sungai Barito sebagai salah satu obyek wisata alam arung jeram untuk peminat wisata petualangan. "Riam-riam yang berada di pedalaman tersebut sangat cocok untuk olah raga alam yang menantang," kata Wakil Bupati Murung Raya (Mura) Nuryakin di Puruk Cahu, Jumat (9/7/2010). Riam-riam tersebut berada di wilayah hulu anak sungai daerah aliran sungai (DAS) Barito seperti Sungai Busang, Sungai Murung dan Sungai Joloi. Sungai dengan ratusan riam itu mempunyai daya tarik yang dapat dirasakan dari jeram, keindahan arus riam, keindahan batu-batuan di tebing pinggiran sungai serta keaslian hutan alam. "Riam yang ada di wilayah hulu sangat cocok untuk para pencinta olah raga petualangan," katanya. Riam-riam tersebut pernah diuji coba pada tahun 1998 oleh Tim Ekspedisi Borneo Divisi Pencinta Alam (Dimpa) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang, Jawa Timur. Tingkat kesulitan (grade) riam-riam tersebut antara 3-4 plus dengan ketinggian gelombang (standing wave) sekitar 4-5 meter yang berada di lokasi antara Tumbang Jujang dan Parahau dimana terdapat 14 riam besar sedangkan Parahau - Joloi ada tujuh riam besar. Kondisi riam di pedalaman kabupaten paling utara Kalteng ini berbeda dengan riam yang ada di pulau Jawa yaitu riam di pulau Jawa itu keadaan sungainya sempit penuh dengan manuver-manuver akibat bentukan arus timbul dari bebatuan. Sedangkan riam di Kalimantan khususnya di sungai Busang memiliki riam yang lebar dengan bentukan sungai dan bebatuan sehingga diperlukan kecepatan mendayung. Perbedaan tingkat kesulitan itulah pada segi keamanan untuk riam-riam di pedalaman kabupaten pemekaran dari Kabupaten Barito Utara ini sangat cocok untuk olah raga arus deras yang penuh tantangan dan resiko. "Selain untuk kegiatan olahraga, riam-riam tersebut juga punya potensi dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA)," katanya. Hanya saja yang menjadi masalah untuk mencapai lokasi riam harus memerlukan waktu dan biaya relatif besar misalnya satu kali jalan dengan mencarter ’longboat’ dari Puruk Cahu menuju Desa Teluk Joloi dan Parahau membutuhkan biaya jutaan rupiah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang