Murung Raya Tawarkan Arung Jeram

Kompas.com - 09/07/2010, 14:48 WIB

PURUK CAHU, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, mengembangkan riam bebatuan di pedalaman Sungai Barito sebagai salah satu obyek wisata alam arung jeram untuk peminat wisata petualangan.      "Riam-riam yang berada di pedalaman tersebut sangat cocok untuk olah raga alam yang menantang," kata Wakil Bupati Murung Raya (Mura) Nuryakin di Puruk Cahu, Jumat (9/7/2010).      Riam-riam tersebut berada di wilayah hulu anak sungai daerah aliran sungai (DAS) Barito seperti Sungai Busang, Sungai Murung dan Sungai Joloi.      Sungai dengan ratusan riam itu mempunyai daya tarik yang dapat dirasakan dari jeram, keindahan arus riam, keindahan batu-batuan di tebing pinggiran sungai serta keaslian hutan alam.      "Riam yang ada di wilayah hulu sangat cocok untuk para pencinta olah raga petualangan," katanya.      Riam-riam tersebut pernah diuji coba pada tahun 1998 oleh Tim Ekspedisi Borneo Divisi Pencinta Alam (Dimpa) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang, Jawa Timur.      Tingkat kesulitan (grade) riam-riam tersebut antara 3-4 plus dengan ketinggian gelombang (standing wave) sekitar 4-5 meter yang berada di lokasi antara Tumbang Jujang dan Parahau dimana terdapat 14 riam besar sedangkan Parahau - Joloi ada tujuh riam besar.      Kondisi riam di pedalaman kabupaten paling utara Kalteng ini berbeda dengan riam yang ada di pulau Jawa yaitu riam  di pulau Jawa itu keadaan sungainya sempit penuh dengan manuver-manuver akibat bentukan arus timbul dari bebatuan.      Sedangkan riam di Kalimantan khususnya di sungai Busang memiliki riam yang lebar dengan bentukan sungai dan bebatuan sehingga diperlukan kecepatan mendayung.      Perbedaan tingkat kesulitan itulah pada segi keamanan untuk riam-riam di pedalaman kabupaten pemekaran dari Kabupaten Barito Utara ini sangat cocok untuk olah raga arus deras yang penuh tantangan dan resiko.      "Selain untuk  kegiatan olahraga, riam-riam tersebut juga punya potensi dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA)," katanya.      Hanya saja yang menjadi masalah untuk mencapai lokasi riam harus memerlukan waktu dan biaya relatif besar misalnya satu kali jalan dengan mencarter ’longboat’ dari Puruk Cahu menuju Desa Teluk Joloi  dan Parahau membutuhkan biaya jutaan rupiah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau