Infrastruktur

PT KAI Diminta Tunda Pembuatan Rel Ganda

Kompas.com - 09/07/2010, 18:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kota Jakarta Barat mengharapkan kebijakan PT Kereta Api Indonesia (KAI) unruk membangun rel ganda di Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, ditunda.

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Barat Yusmada Faizal mengatakan, lokasi membangun rel ganda dari Stasiun Kampung Duri dan melintas di wilayah Semanan, hingga Tangerang, menggunakan Jalan Raya Gaga Utama yang selama ini menjadi akses jalan utama warga setempat.

"Sehingga jika harus dibangun di jalan itu, harus disediakan dulu tanah yang akan digunakan sebagai akses jalan alternatif sebelum rel ganda dibuat," kata Yusmada Faizal di Kantor Walikota Jakarta Barat, Jumat (9/7/2010).

Yusmada Faizal mengakui, meski Jalan Raya Gaga Utama milik PT KAI, namun sebagian tanah itu sudah menjadi jalan utama warga. Selama ini banyak warga mengandalkan jalan itu sebagai akses utama sekaligus urat nadi perekonomian warga sekitar.

"Sebagian lahan rel ganda tersebut terdapat akses jalan warga sepanjang sekitar 350 meter dengan lebar 4,5 meter. Sedangkan, pembangunan rel ganda mencapai panjang hingga sekitar 13 km," ujarnya.

Yusmada menyarankan, agar pembangunan dilakukan di lokasi lain dahulu yang tidak mengalami permasalahan. "Jangan sampai pembangunan rel terhambat karena permasalahan jalan 350 meter tersebut," katanya.

Bila pembangunan dijadwal ulang, hal itu bisa dimanfaatkan pemerintah kota maupun pemerintah provinsi untuk menginventarisasi lahan yang akan dibebaskan. Rencananya, lahan selebar 40 meter ke bagian selatan dari patok PT KAI akan dibuat jalan baru.

Konsekuensinya, rumah warga yang berada di sekitarnya harus digusur.  "Ini berarti perlu dana pembebasan lahan. Kemungkinan dana pembebasan itu baru diusulkan pada APBD 2011," jelasnya.

Ia juga mengaku belum tahu pasti berapa lebar lahan yang akan dibebaskan. "Bisa saja kurang dari 40 meter jika anggaran tidak mencukupi, tetap ada negosiasi," ungkapnya.

Namun yang jelas, harus ada standar jarak aman antara rel kereta dengan pemukiman warga. Rencana itu merupakan rencana jangka panjang agar akses jalan yang selama ini ada bisa dicarikan penggantinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau