Uang Memancing Masalah Pasutri?

Kompas.com - 09/07/2010, 18:08 WIB

KOMPAS.com — Pertengkaran yang kerap kali terjadi dalam rumah tangga salah satunya dipicu masalah keuangan. Uang menjadi kambing hitam, padahal masalah utamanya bisa jadi berasal dari perbedaan visi pasangan suami istri (pasutri) itu sendiri.

Tom Martin Charles Ifle, Mentor Coach yang juga praktisi hipnoterapi, menjelaskan bahwa masalah mendasar dalam hubungan pasutri bukan disebabkan oleh uang, melainkan lebih pada perbedaan visi atau tujuan mengenai akan diapakan uang tersebut.

"Uang bisa menjadi pemicu konflik, bukan karena kekurangan uang, namun lebih karena kebiasaan pasangan yang berbeda. Suami atau istri bisa mengelola uang, namun belum tentu bisa me-manage keputusan untuk mengelola uang. Apakah mengambil keputusan dengan emosi atau logis. Padahal, karakter uang sendiri sudah sangat emosional," papar Tom kepada Kompas Female, di sela workshop Money Coaching yang diadakan oleh iCOACH di Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (9/7/2010).

Perselisihan paham dalam rumah tangga terkait uang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti dijelaskan Tom berikut:

1. Peran suami dan istri
Peran suami dan istri yang diasumsikan menjadi sumber konflik rumah tangga, yang selalu dikaitkan dengan uang. Dalam kondisi masyarakat modern, peran suami dan istri tak bisa lagi menggunakan asumsi. Misalnya, karier dan pendapatan istri yang lebih tinggi. Padahal, pendapatan suami saat ini kurang. Peran yang diasumsikan bahwa suami harus berpendapatan lebih dari istri inilah yang menjadi akar masalah pasutri yang dipicu keuangan. Padahal, persoalan utamanya bukan pada uang, melainkan lebih pada kesepahaman suami dan istri tentang perannya yang belum sejalan.

2. Gaya komunikasi berbeda
Hubungan pasutri dalam rumah tangga akan mengalami disfungsi karena persoalan komunikasi. Baik suami maupun istri memiliki prioritas masing-masing dalam penggunaan keuangan. Suami menganggap dengan memberikan uang sebanyak-banyaknya kepada istri atau keluarga, maka akan menyelesaikan semua masalah. Sedangkan istri menganggap bukan uang yang banyak solusinya, namun lebih pada bagaimana uang tersebut akan digunakan dan apa prioritas keluarga. Uang lantas dianggap sebagai alat komunikasi yang paling mudah, padahal uang tak bisa menjawab semua masalah.

3. Minimnya afeksi
Jika hubungan pasutri kompak, adanya komunikasi yang baik dan hadirnya ikatan emosi yang kuat membuat persoalan uang bisa didiskusikan. Sayangnya, afeksi dalam hubungan pasutri menipis sehingga uang kembali menjadi sumber masalah yang menghancurkan hubungan. Jika hubungan emosi pasutri terjalin baik, dengan adanya perhatian, perasaan cinta, sentuhan, saling menghargai dan mendengarkan, serta menciptakan suasana harmonis, persoalan keuangan keluarga sangat bisa dipecahkan. Jika dikatakan cinta mengalahkan segalanya, konsep ini bisa dipraktikkan ketika pasutri menghadapi persoalan termasuk seputar keuangan.

4. Prioritas berbeda
Penyebab konflik rumah tangga terkait keuangan semakin mengerucut pada perbedaan karakter, kebiasaan atau pembawaan dari masa kecil, yang akhirnya membentuk prioritas berbeda, baik pada suami maupun istri. Pasutri yang kurang mengenali karakter masing-masing karena minimnya afeksi tadi, lantas akan terjebak dalam konflik keuangan berkepanjangan. Karena akhirnya pasutri memiliki tujuan masing-masing dan juga prioritas penggunaan keuangan yang berbeda arah.

Kebiasaan atau pengalaman yang dibawa suami atau istri sejak kecil dari keluarganya juga berpengaruh. Misalnya, Anda sejak kecil diberikan uang saku tanpa batas dan selalu dihabiskan. Kebiasaan ini membentuk karakter sehingga berapa pun uang yang Anda hasilkan dan pemberian suami selalu habis, tak pernah bisa ditabung. Atau Anda pernah punya pengalaman pahit pada masa lalu tentang sekolah, misalnya, sehingga Anda ingin memastikan anak Anda akan mendapatkan pendidikan di sekolah paling bagus atau paling mahal.

Perbedaan pengalaman hidup pada masa lalu ini jika tidak dibicarakan bersama pasangan akhirnya bisa menimbulkan prioritas penggunaan uang yang berlawanan. Komunikasi tidak akan terjalin baik jika pasutri minim afeksi. Jadi semua faktor saling berkaitan, yang kemudian memperkeruh konflik pasutri dengan mengambinghitamkan uang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau