Sketsa wajah pelaku

Tama: Tidak Ada yang Mirip

Kompas.com - 10/07/2010, 17:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tama Satya Langkun mengaku bahwa sketsa wajah pelaku yang dibuat Polri semuanya belum ada yang mirip. Tama yang masih terbaring di Rumah Sakit Asri mengakui hal tersebut dan menjelaskan kronologi peristiwanya.

"Sketsa yang diterima, semuanya belum ada yang cocok. Saya belum melihat ada yang sama," ungkap Tama saat ditemui di Rumah Sakit Asri, Jakarta Selatan, Sabtu (10/7/2010).

Saat ditanya siapa pelakunya, ia pun tidak bisa mengetahuinya karena waktu penyerangan begitu cepat, hanya dalam tempo satu menit.

"Saya saat itu melihat ada empat orang yang menyerang saya, tapi menurut Davi penyerangnya hanya dua orang. Saya pun sampai sekarang belum ketemu dengan Davi. Saya pun belum bisa memastikan siapa yang melakukannya, kejadian ini saya yakin berhubungan dengan kasus yang saya tangani," terang Tama.

Saat kejadian tersebut, Tama mengaku masih sadar. Tama pun masih ingat kalau dirinya dibawa ke rumah sakit dan kepalanya dijahit. "Saya waktu itu masih sadar karena saya ingat betul saya dibawa ke rumah sakit dan masih sempat berbicara dengan dokter yang menjahit kepala saya," terangnya.

Kondisinya saat ini mulai membaik, luka bekas pukulan di lehernya mulai membaik dan benjolannya sudah tidak terlihat. "Awalnya di leher saya ini benjolannya sangat besar sehingga saya tidak bisa menelan sama sekali karena sakit. Tapi, sekarang sudah membaik," ujarnya.

Luka di kakinya merupakan luka yang diakibatkan gesekan saat ia terjatuh dari sepeda motor yang membuatnya terseret sampai enam meter. (Tribunnews/Adi Suhendi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau