Ibu Rumah Tangga dalam Industri Kreatif

Kompas.com - 12/07/2010, 13:47 WIB

KOMPAS.com - Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. "Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak," tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu.

Padahal, produktivitas Clara sebagai penulis tak perlu diragukan lagi. Sejak menulis Tujuh Musim Setahun pada tahun 2000, hingga kini ia telah menulis dan menerbitkan tak kurang dari 11 novel dan 29 buku cerita anak-anak.

Senada dengan Clara, penulis Sitta Karina Rachmidiharja (29) mengatakan lebih ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga daripada penulis atau selebriti apa pun. "Karena saya memang ibu rumah tangga dan tidak pernah ingin jadi selebriti. Lebih enak begini, punya privasi dan kebebasan," kata Sitta di rumahnya di kawasan Kreo, Tangerang, Banten.

Sitta mulai dikenal sejak menerbitkan novel pertamanya, Lukisan Hujan, pada tahun 2004, dan sejak itu sudah menulis 15 novel. Novel Lukisan Hujan sendiri, yang diterbitkan penerbit Terrant Books itu, laku keras dan cetak ulang hingga lima kali.

Keluar dari pekerjaan
Awalnya, Sitta sempat beberapa kali pindah kerja, mulai dari Citibank, perusahaan konsultan manajemen Accenture, hingga menjadi konsultan di PT Freeport Indonesia. Namun, sejak 2005 ia memilih keluar dari pekerjaan dan menjadi penulis freelance. "Sebagai istri, saya ini sangat old fashioned. Bagi saya, tugas utama istri, ya, mengurus rumah dan anak-anak," ungkap alumnus jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.

Keluar dari kerja kantoran untuk menekuni kegiatan menulis juga dilakukan Ratih Kumala (29). Ia sebenarnya sudah ingin menulis novelnya sejak lama, tetapi baru tahun 2002 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan merampungkan novel pertama berjudul Tabula Rasa (Grasindo, 2004).

Hasilnya tak sia-sia, novel itu terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. "Sejak itu, saya menekuni pekerjaan jadi penulis lepas," kata alumnus jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret, Solo, ini.

Menulis sendiri bagi Sitta adalah sebuah kegemaran lama. Sejak usia delapan tahun, Sitta sudah gemar mengarang cerita. Inspirasinya ia dapat dari kakeknya, almarhum Mara Karma, seniman dan penulis seangkatan Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.

Sementara bagi Clara, menulis sudah menjadi kebutuhan. Dalam blog-nya, Clara mengaku menulis karena usia ini singkat dan begitu banyak yang harus diungkapkan. "Ada kebutuhan untuk berbagi isi kepala saya kepada orang lain," kata lulusan jurusan Komunikasi Interpersonal di Ohio State University, Amerika Serikat, itu.

Clara juga sempat bekerja di sebuah perusahaan perkapalan di Jakarta sepulang dari AS. Namun, ia memutuskan keluar setelah tiga tahun karena sempat mengalami keguguran kandungan hingga dua kali. Setelah berhenti bekerja itulah, ia punya waktu untuk menekuni kembali hobi menulisnya.

Film dan sinetron
Menurut Sitta, tawaran untuk mengangkat novel-novelnya menjadi film sudah datang silih berganti, tetapi ia selalu menolak. Alasannya, kualitas sebagian besar aktor di Indonesia belum sesuai harapannya, dan jika dipaksakan, justru bisa merusak karakter-karakter dalam novelnya.

Sementara Clara mengaku belum mau menerima tawaran menulis skenario untuk sinetron dengan alasan kebebasan berkarya. "Kalau menulis skenario, saya harus memenuhi tenggat waktu yang ketat, padahal saya lebih mementingkan keluarga," tuturnya.

Berbeda dengan dua penulis tersebut, Ratih justru memutuskan mencoba dunia baru untuk penulisan tersebut. Awal Mei lalu, Ratih terlibat sebagai penulis skenario teater musikal berjudul "Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik". Pentas, yang diselenggarakan Ikatan Abang None Jakarta bekerja sama dengan Teater Peqho, itu digelar di Gedung Kesenian Jakarta, 14-15 Mei.

Ratih juga setiap hari berkecimpung dalam dunia skenario  sinetron karena posisinya sebagai editor naskah cerita drama di Divisi Drama TransTV. Dua tahun lalu Ratih memang memutuskan memasuki dunia kerja lagi.

"Jadi penulis freelance itu sangat enak. Bisa kerja di rumah, tidak ada jam kerja. Tetapi, lama-lama jenuh juga. Saya merasa perlu mendisiplinkan diri karena lama-lama hidup saya mulai ngaco," ungkapnya.

Menurut dia, seorang penulis harus membuat jenjang kariernya sendiri. "Setelah menulis untuk media dan buku sudah khatam, saya harus naik kelas. Bekerja di TV dan menulis naskah teater ini adalah naik kelas saya," tandas istri penulis novel Eka Kurniawan ini.

(Dahono Fitrianto/Lusiana Indriasari)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau