Atasi Stres dengan Akupuntur

Kompas.com - 12/07/2010, 14:04 WIB

Kehidupan kota besar yang keras tanpa disadari memaksa warganya untuk berkompetisi. Kondisi penuh tantangan dan kompetisi ini membuat orang menjadi stres yang akhirnya bisa berujung pada timbulnya berbagai macam penyakit, dari yang terkesan ringan hingga berat seperti jantung dan kanker.

Hal itu dirasakan oleh ahli akupunktur Putu Oka Sukanta yang mulai banyak menerima pasien dengan berbagai penyakit yang disebabkan oleh stres.

"Pasien yang datang ke tempat saya dengan berbagai macam keluhan, tetapi setelah diurut urut ternyata penyebabnya adalah ketidaknyamanan di tempat kerja, adanya kekecewaan, adanya perasaan ketertindasan oleh pekerjaan dan lingkungan," ujar Putu Oka Sukanta ketika ditemui Warta Kota di kliniknya di Rawamangun, Rabu.

Pasien dengan berbagai keluhan itu mau tidak mau harus mengungkapkannya kepada Putu. Setidaknya, saat kunjungan pertama pasien harus bisa terbuka atas penyakitnya, gejala, dan awal sebab pasien menderita penyakit tersebut.

Sebab, jika pasien menolak untuk menceritakan masalahnya, maka Putu juga enggan untuk membantu menyembuhkan pasien. Karena bagi Putu, obat baik medis maupun tradisional, dan bentuk pengobatan apa pun, tidak akan bisa menyembuhkan pasien jika akar masalah dari penyakitnya tidak diketahui.

Bahkan, Putu bersikeras untuk mencoba membuka masalah pasien di kunjungan pertama. Meski, ada juga beberapa pasiennya yang baru diketahui sebabnya pada kunjungan berikutnya. Seperti pasiennya yang menderita sakit migren setiap hari sebelum pukul 08.00.

Ternyata pasien itu memiliki masalah di kantor sehingga dia selalu merasa ragu-ragu untuk berangkat ke kantor. Saat dia sedang berpikir untuk berangkat atau tidak, kepalanya pusing. Tetapi ketika dia sudah mengambil keputusan, sakit kepalanya hilang, papar Putu.

Hal-hal seperti inilah yang harus dipahami pasiennya saat berobat ke klinilmya. Jika akar masalah sudah diketahui, Putu akan memberikan pilihan pada pasien untuk memilih bentuk pengobatan yang akan dijalaiii mereka.    -

Tidak heran jika pasien baru bisa 15 hingga 30 menit berada di dalam ruangannya. Putu akan memberikan waktu yang cukup untuk pasien bisa mengungkapkan penyakit dan masalahnya. Bahkan, Putu bisa mengajak pasiennya berdiskusi hal-hal diluar masalah penyakitnya.

Seminggu tiga Kali Saat memberikan pengobatan akupunktur, Putu tidak memberikan jadwal mati pada pasiennya. Ia akan memberikan pllihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pasien. Ia juga tetap memberikan penjelasan bahwa secara teori, pengobatan bisa dilakukan pasien sebanyak tiga kali seminggu.

"Saya tidak membantu menyelesaikan masalah pasien jika mematok waktu pengobatan. Tetapi saya tetap menganjurkan seminggu tiga kali dan keputusan ada di tangan pasien. Selalu diberi kelonggaran dan dia mendapat waktu untuk memutuskan waktu pengobatannya," tandas Putu Oka.

Bahkan untuk orang yang memiliki tempat domisili yang sangat jauh di luar Jakarta, ayah satu anak ini akan memberikan referensi rekan-rekannya sesama ahli akupunktur yang ada di kota yang sama dengan pasien. Bagi Putu, semakin pasien mendapat kelonggaran dalam memutuskan sendiri waktu pengobatannya, maka itu bisa membantu pasien mengatasi masalahnya.

Karena bagaimanapun juga, pasien tetap memiliki keterbatasan waktu atau materi yang membuat mereka perlu untuk menentukan sendiri pengobatannya.

Ada juga pasien yang dianjurkan untuk melakukan pengobatan setiap hari jika kondisi penyakitnya membutuhkan perawatan yang intensif. Lagi-lagi hal itu dikembalikan pada pasien. (wartakota-wik) Putu Oka Sukanta Jalan Balai Pustaka I no 8 Rawamangun Jakarta Timur telp: 021-4891938.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau