Elpiji

Tabung Gas, Rawat dan Kenali Kebocoran

Kompas.com - 12/07/2010, 17:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kendati penyuluhan soal cara aman penggunaan tabung gas elpiji dilancarkan, ledakan akibat tabung bocor terus-menerus terjadi. Terakhir, ledakan akibat tabung gas kembali menelan korban, Sabtu (10/7/2010).

Sepasang suami istri, Sofyan (55) dan Nuriyah (50), menjadi korban. Mereka mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh akibat tabung gas meledak di rumahnya di Jalan Danau Kerinci 3, Perumnas III, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Maka dari itu, tak ada salahnya jika soal cara aman penggunaan tabung gas elpiji kembali disosialisasikan. Bagi Anda pengguna tabung gas elpiji, khususnya jenis tiga kilogram, ada baiknya membaca tulisan ini.

Perawatan kompor gas beserta aksesorinya

Ahli Utama Keselamatan Gas Domestik Pertamina Priyo Warsono menuturkan, Senin (12/7/2010) di Jakarta, salah satu kunci utama menghindari kecelakaan ledakan akibat tabung adalah perawatan kompor gas beserta aksesorinya secara layak.

Aksesori yang dimaksud adalah selang, tabung, dan klem atau cincin pengaman. Priyo mengatakan, konsumen yang menggunakan tabung gas harus selalu mengingat bahwa tabung tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.

"Tabung harus dalam posisi berdiri, hindari dari nyala api yang terbuka, seperti rokok dan lampu minyak. Selain itu, tabung harus disimpan di tempat kering, tidak basah dan tidak diperkirakan menimbulkan korosi. Ketika membeli, pastikan seal cap masih terpasang. Jangan lupa, rawat valve pada tabung," ujarnya.

Khusus selang, Priyo meminta agar konsumen menjaga kebersihannya. "Hindari dari gigitan hewan, seperti tikus, sayatan benda tajam, ataupun terkena nyala api. Jangan sampai letak selang tertindih atau terlipat. Selang juga harus dibersihkan dari sisa-sisa makanan yang tertumpah agar tidak menarik tikus. Lakukan pemeriksaan harian pada selang untuk mengetahui kebocoran," ucapnya.

Terkait klem atau cincin pengaman, dia meminta konsumen memastikan bahwa aksesori tersebut benar-benar terpasang erat pada sambungan selang dengan kompor. Antara selang dan regulator juga harus terpasang erat untuk menghindari kebocoran.

"Sementara itu, jangan lupa untuk selalu membersihkan kompor gas secara rutin, serta jangan menggunakan kompor minyak tanah secara bersamaan dengan penggunaan kompor gas, terutama pada saat pemasangan regulator," katanya,

Kenali kebocoran gas

Menurut Priyo, selain gas propana dan butana, gas elpiji juga mengandung zat merkaptan. Zat merkaptan berfungsi memberikan bau yang khas sehingga kebocoran gas mudah diketahui dengan cepat. Kebocoran gas, sambungnya, dapat dikenali dari tiga hal.

"Pertama, tercium bau khas gas elpiji yang menyengat. Kedua, terdapat embunan pada tabung elpiji, biasanya ada di sekitar sambungan pengelasan tabung, neck ring, katup, atau sambungan pada foot ring. Selain itu, kebocoran bisa diketahui dengan adanya bunyi mendesis pada regulator," katanya.

Menurut Priyo, jika terjadi kebocoran, konsumen harus segera melepaskan regulator dan membawa tabung ke luar ruangan serta letakkan di tempat terbuka. "Jangan menyalakan api atau menghidupkan listrik," kata Priyo.

Setelah itu, tukar tabung gas tersebut ke agen atau penjual gas elpiji. Selain tiga hal di atas, katanya, konsumen juga dapat mendeteksi dini kebocoran pada aksesori tabung gas dengan cara membasuhnya dengan air sabun pada bagian-bagian rawan kebocoran, seperti sambungan regulator dengan katup tabung, sambungan selang dengan regulator dan kompor.

"Apabila terjadi kebocoran, ada gelembung-gelembung udara pada air sabun dan tercium bau khas gas elpiji," imbuhnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau