HKTI, Masihkah untuk Petani?

Kompas.com - 14/07/2010, 12:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Munas Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) lebih kental nuansa politiknya dibandingkan sebagai momen yang menyerap aspirasi para petani. Sejak sebelum dimulai, perhelatan ini gegap gempita dengan bursa calon Ketua Umum HKTI. Yang bertarung juga bukan mereka yang berlatar belakang petani. Mereka yang bertarung adalah para elite partai politik.

Pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, mengatakan, Munas yang tengah berlangsung di Bali menunjukkan betapa tingginya "libido" para politisi untuk berkuasa di HKTI.

"Ada usaha untuk membuat Munas HKTI berlangsung aklamasi. Ini menimbulkan kisruh baru. Apa yang terjadi di HKTI plus kondisi di Bali menunjukkan betapa kuatnya libido kekuasaan oleh para calon," kata Burhan kepada Kompas.com, Rabu (14/7/2010).

Kondisi ini, menurutnya, semakin membuat pesimistis bahwa para politisi itu benar-benar mau memperjuangkan kesejahteraan para petani. "HKTI hanya sekadar menjadi instrumen politik bagi (Pilpres) 2014 dan ini terkonfirmasi oleh situasi Munas yang lebih banyak bicara siapa yang akan menjadi nomor 1 di HKTI karena suasana yang tidak demokratis," ujarnya.

HKTI saat ini pun dinilai makin terdiskoneksi dengan para stakeholder utamanya, yaitu para petani. Pilihan tempat penyelenggaraan Munas yang mewah menjadi indikasi bahwa ajang ini tidak untuk para petani, tetapi politisi.

"Ini ibaratnya menjadi hari raya politisi. Mereka sibuk melakukan manuver sebagai calon ketua umum yang lebih memperlihatkan representasi parpol daripada petani. Para petani tak bisa banyak berharap dari organisasi ini," kata Burhan. Bahkan, lanjutnya, keberadaan HKTI selama ini tak mampu mendongkrak dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi petani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau