KENDARI, KOMPAS.com — Pengembang perumahan yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Tenggara (Sultra) siap menaikkan harga jual rumah, menyusul kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan biaya penyambungan.
Pengurus REI Sultra, Nasir M, di Kendari, Rabu, mengatakan, semula setiap unit rumah dipasangi listrik sebesar 900 watt dengan biaya sebesar Rp 368.000, tetapi saat ini satu unit rumah diberikan daya minimal 1.300 watt dengan biaya sebesar Rp 1.115.000. "Kenaikan itu sangat besar. Karena itu, kami memutuskan untuk menaikkan harga jual mulai bulan Agustus sebab kalau tidak dinaikkan maka kami yang akan rugi," katanya.
Pengembang juga akan menyosialisasikan kenaikan tersebut kepada pemilik rumah yang belum mendapatkan sambungan listrik, tetapi pada saat akad jual beli hanya menanggung biaya pemasangan listrik sebesar Rp 368.000.
"Bagi pengguna lama, mereka terpaksa harus menanggung kenaikan biaya pemasangan ini karena tidak sesuai lagi dengan biaya pada saat akad," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah juga harus merevisi penetapan standar harga rumah sederhana sehat (RSH) di sebesar Rp 55.000.000, harga tersebut harus mempertimbangkan kenaikan biaya bahan baku akibat kenaikan TDL.
Nasir juga mengatakan, untuk sementara waktu pengembang menghentikan penjualan perumahan RSH sambil menunggu kebijakan harga terbaru yang telah disesuaikan dengan biaya produksi.
Saat ini terdapat sekitar 70 pengembang perumahan di Sultra, tetapi yang terdaftar di REI Sultra hanya 63 pengembang. Pada tahun 2009, sedikitnya 1.000 unit rumah yang telah dibangun seiring semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perumahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang