JAKARTA, KOMPAS.com — Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai belum saatnya pemerintah menaikkan tarif reguler bus transjakarta. Tarif saat ini, Rp 3.500, dinilai masih ideal bagi para pengguna bus transjakarta.
Dari hasil survei YLKI terhadap 3.000 responden pengguna bus transjakarta di semua koridor, sebanyak 62,30 persen responden menyatakan tarif ideal adalah Rp 3.500.
"Maka, kami menilai bahwa rencana kenaikan tarif tersebut belum saatnya diterapkan," kata Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, dalam talkshow hasil studi tarif dan kepuasan pengguna bus transjakarta, di Jakarta Media Center, Jakarta Pusat, Kamis (15/7/2010).
Selain tarif reguler saat ini masih dirasa ideal bagi konsumen, Tulus mengatakan, alasan lainnya adalah belum adanya pelaksanaan standar pelayanan minimal (SPM) dari pengelola bus transjakarta dan dinas terkait.
"Karena itu, konsumen pun sekarang masih sulit mengukur atau mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan," ujarnya.
Dari hasil survei juga diketahui, kemampuan membayar (ability to pay) para pengguna bus transjakarta belum bisa mencapai jika tarif dinaikkan menjadi Rp 5.000. "Ability to pas pengguna bus transjakarta sekarang ini masih sekitar Rp 4.800," kata Tulus.
Lebih lanjut, dia mengatakan, seharusnya pemerintah, yakni dinas terkait, lebih dulu meningkatkan kualitas pelayanan, terutama mencakup aspek infrastruktur, sumber daya manusia, dan proses bisnis. Sementara itu, pelayanan yang paling perlu untuk ditingkatkan saat ini adalah waktu tunggu dan waktu tempuh dari halte ke halte, keselamatan, kenyamanan, sistem informasi, aksesibilitas, dan kebersihan.
"Untuk mengukur seberapa besar target perbaikan yang harus dilakukan dan kualitas pelayanannya harus seperti apa, penerapan standar pelayanan maksimal adalah cara yang paling efektif," kata Tulus Abadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang