WASHINGTON, KOMPAS.com — Ilmuwan nuklir Iran yang mengatakan diculik agen-agen AS tahun lalu merupakan seorang informan CIA saat masih tinggal di Iran, demikian laporan harian The New York Times, Kamis (15/7/2010), mengutip para pejabat AS.
Shahram Amiri, ilmuwan itu, yang kembali ke Teheran pada Kamis pagi mengatakan, dia dipaksa berbohong tentang program nuklir Iran. Washington membantah telah menculik Amiri dan berkeras bahwa dia hidup bebas di Amerika Serikat.
Para pejabat itu, sebagaimana dilaporkan Times, mengatakan, ilmuwan tersebut menjelaskan kepada para petugas intelijen AS rincian tentang bagaimana sebuah universitas di Teheran menjadi kantor rahasia proyek nuklir Iran. Saat masih di Iran, Amiri juga menjadi salah satu sumber untuk sebuah laporan National Intelligence Estimate terhadap Iran yang diduga punya program senjata, yang diterbitkan tahun 2007.
Seorang pejabat mengatakan, Amiri memberikan informasi "signifikan asli" tentang aspek rahasia program nuklir negaranya. Para pejabat AS mengatakan kepada surat kabar itu bahwa pada suatu saat, ketika bekerja sebagai informan rahasia, Amiri mengunjungi Arab Saudi. Di sana CIA mengatur dia untuk bisa keluar dari Iran.
Amiri akhirnya tiba di AS dan menetap di Arizona. Times mengatakan, tidak jelas apakah ia juga membawa serta istri dan putranya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang