Iranian Scientist was CIA Asset inside Iran for Years

Kompas.com - 16/07/2010, 15:53 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - The Iranian scientist who spent 14 months in the United States in mysterious circumstances had been a CIA informant inside Iran for years, The New York Times reported Friday. “Shahram Amiri described to American intelligence officers details of how a university in Tehran became the covert headquarters for the country’s nuclear efforts,” the report said citing unnamed US officials.

“While still in Iran, he was also one of the sources for a much-disputed National Intelligence Estimate on Iran’s suspected weapons program, published in 2007,” it further cited the officials as saying. Indeed it was “for several years” that “Amiri provided what one official described as ’significant, original’ information about secret aspects of his country’s nuclear program,” the US officials were quoted as saying.

Amiri, repeating his claims he had been abducted by US spies, told reporters at Tehran airport that not only did he have nothing to do with Iran’s controversial nuclear programme, he had also resisted US pressure to tell the media that he was a well-informed atomic scientist. He said his captors wanted him to tell the US media that he had “defected on his own and was carrying important documents and a laptop which contained classified secrets of Iran’s military nuclear programme.”

“But with God’s will, I resisted,” Amiri said, soon after being welcomed at Tehran airport by his tearful son and overjoyed wife. Amiri, who vanished from Saudi Arabia in June 2009 while on a pilgrimage, surfaced in Iran’s Interests Section in Washington two days ago.

He jetted out of Washington on Wednesday after US officials insisted he had arrived in the United States on his own free will and that there was nothing stopping him from leaving. He insisted on his arrival in Tehran that he was a “simple researcher” and not involved in Iran’s nuclear programme, which world powers believe masks an atomic weapons drive despite continued Iranian denials.

“I had nothing to do with the Natanz and Fordo sites,” Amiri said, referring to Iran’s two uranium enrichment plants.

“It was a tool the US government brought up for political pressure,” he said, referring to reports he was a nuclear scientist.

“I have done no research on nuclear. I am a simple researcher who works in a university which is open to all and there is no secret work happening there.”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau