Hingga lebaran

Industri Makanan Tak Naikkan Harga

Kompas.com - 16/07/2010, 16:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi Siswaja Lukman mengatakan, pelaku industri makanan dan minuman bertahan tidak menaikkan harga sampai Lebaran meski harga beberapa bahan baku mengalami fluktuasi.

"Tentu ini berpengaruh, tapi industri besar masih bisa bertahan karena punya stok bahan baku untuk satu sampai dua bulan ke depan," katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (16/7/2010).

Menurut Adhi, pelaku industri makanan dan minuman berusaha tidak menaikkan harga sampai Ramadhan dan Idul Fitri yang tahun ini jatuh pada Agustus dan September 2010.

Dia berharap cuaca segera membaik sehingga pasokan beberapa bahan baku seperti cabai dan bawang yang saat ini harganya naik akibat gangguan pasokan, kembali normal dalam satu atau dua bulan ke depan.

Namun, dia melanjutkan, jika ketidakstabilan pasokan akibat faktor cuaca terus berlanjut, maka dua atau tiga bulan mendatang pelaku industri terpaksa menaikkan harga.

"Biasanya antara 10 persen sampai 15 persen, tidak bisa lebih dari itu, kalau terlalu besar bisa mempengaruhi penjualan," katanya.

Menurut dia, pasokan sebagian besar bahan baku industri makanan dan minuman berasal dari dalam negeri. Hanya beberapa bahan baku seperti cabai kering, terigu dan tepung telur yang harus diimpor karena belum tersedia di dalam negeri.

Adhi menjelaskan pelaku industri makanan dan minuman biasanya berusaha menekan dampak kenaikan harga bahan baku pada harga produk dengan mengurangi ukuran dan mencari bahan baku alternatif.

"Itu sudah berkali-kali dilakukan jadi sekarang sudah sulit mengurangi ukuran. Bahan baku alternatif juga sedikit. Jadi kalau terus seperti ini mungkin kami terpaksa menaikkan harga," ujarnya.

Faktor lain yang akan memaksa pelaku industri makanan dan minuman menaikkan harga jual produk adalah kenaikan tarif dasar listrik dan sistem penghitungan tarif listrik untuk industri.

"Dalam minggu ini perubahan sistem penghitungan akan diumumkan pemerintah, semoga kenaikan seperti yang semula dijanjikan. Kalau kenaikan terlalu tinggi kenaikan harga tidak bisa ditahan," katanya.

Akhir-akhir ini harga beberapa bahan termasuk cabai merah, bawang, telur dan daging ayam naik.

Harga cabai keriting yang biasanya berkisar Rp 18.000-Rp 20.000, saat ini dijual dengan harga Rp 35.000-Rp 40.000.

Menurut data Kementerian Pertanian per 16 Juli, harga cabai merah di tingkat konsumen pada daerah sentra produksi Rp 25.000 sampai Rp 35.000, harga bawang merah Rp 13.000 sampai Rp 16 .000 dan harga telur ayam ras Rp 10.000 sampai Rp 16.500.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau