Forum Rektor Itu Organisasi Profesi ataukah Ormas?

Kompas.com - 17/07/2010, 03:19 WIB

Forum Rektor ”selalu” tampil pada saat yang ”tepat”. Sering dipanggil Presiden untuk beragam masalah. Timbul pertanyaan: Forum Rektor itu organisasi profesi, organisasi massa, atau lembaga swadaya masyarakat?

Masih ingat pemberitaan energi biru tahun 2007/2008? Ketika itu, anggota Staf Khusus Presiden, Heru Lelono, dan putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bernama Edhie Baskoro (Ibas) mencoba merintis energi alternatif. Namun, tidak berhasil. Bahkan, tokohnya sempat diadili di Yogyakarta. Forum Rektor datang ke Istana, bertemu dengan Presiden SBY. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai energi alternatif. SBY waktu itu meminta Forum Rektor menemukan energi alternatif dan dilaporkan kepada Presiden dalam waktu dua minggu kemudian.

Kemudian, awal 2010, Forum Rektor bertemu dengan Presiden SBY lagi. Kali ini Presiden meminta Forum Rektor mencari format demokrasi yang tepat untuk diterapkan di Indonesia.

Saya belum pernah membaca berita bahwa Forum Rektor sudah memenuhi permintaan Presiden untuk dua hal di atas. Belakangan, saya teringat pada Forum Rektor setelah membaca Pojok Kompas (11/6) yang berbunyi ”Forum Rektor usulkan lima nama calon ketua KPK”, yang dikomentari Mang Usil dengan ”... tanpa maksud memperlama”.

Pertanyaan saya, Forum Rektor itu organisasi profesi yang menangani bidang pendidikan tinggi ataukah organisasi massa atau LSM yang mengurus energi, format demokrasi, dan nama-nama calon ketua KPK?

HARSOKO SOEDIRO Mantan Anggota MPR Jalan Manggarai Utara ISP 53, Tebet, Jakarta Selatan

Tertarik dengan promosinya, saya membuka rekening HSBC Advance pada Februari lalu dengan nomor 007059074806 di HSBC Cabang Semarang. Promosinya: dengan penempatan dana minimal ekuivalen dengan Rp 20 juta, nasabah tak akan terkena biaya bulanan Rp 50.000. Saat itu saya langsung menyetor dana berupa uang kertas euro senilai 3.000 euro.

Permasalahan timbul ketika pada pertengahan Juni lalu saya melakukan pencairan. Saya terkejut bahwa untuk menarik 3.000 euro, nasabah dikenai biaya 38,8 euro atau 1,29 persen dari jumlah yang ditarik.

Ketika saya protes, dengan entengnya kasir mengatakan bahwa itu merupakan sistem yang berlaku di HSBC. Sebagai nasabah, saya kecewa sebab saat membuka rekening, hal itu tak    diberitahukan. Apakah ini trik bank agar orang tertarik menempatkan dana dalam mata uang asing, lalu menarik untung saat nasabah menarik dananya?

TEDDY HARTONO Jalan Imam Bonjol 140, Semarang

Pada Minggu (13/6) pukul 9 pagi istri saya menelepon Kidzania untuk menanyakan tiket masuk sesi 1 (09.00-14.00). Jawabnya: habis terjual. Kami tetap memutuskan menuju ke sana untuk membeli tiket sesi 2 (15.00-20.00). Istri saya membeli 3 tiket untuk anak, 2 untuk dewasa, dan 1 untuk anak 1-2 tahun pada pukul 10.40. Lalu, kami berbelanja ke Manggadua.

Sekitar pukul 13.00 istri saya kecopetan. Dompet berisi, antara lain, tiket Kidzania itu hilang. Setelah sibuk menelepon ke sana kemari untuk memblokir kartu-kartu, kami kembali ke Kidzania dan memberi tahu bahwa kami barusan kecopetan. Petugas loket yang tadi melayani kami bilang akan membantu. Namun, dia masih sibuk melayani pembeli tiket. Kami langsung ke layanan pelanggan yang mengatakan ”segera kami urus”, tetapi agak lama karena transaksi harus dicek. Setelah 30 menit kami diberi tahu bahwa tiket kami hangus dan tak ada ganti.

Kami sangat kecewa karena anak-anak kami sedih. Padahal, kami sudah beli tiket yang, menurut bagian IT Kidzania, sudah tercatat dengan debit Mandiri. Pasti ada nomor tiketnya. Tak ada kebijakan Kidzania yang dikenal sebagai sahabat dan tempat terbaik untuk kebahagiaan anak-anak. Kami meminta pihak Kidzania menanggapi dan mengobati kekecewaan kami sebagai pelanggan Kidzania.

ANDI MEINAR Ciledug Raya 69, Kreo, Tangerang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau