Masih ingat pemberitaan energi biru tahun 2007/2008? Ketika itu, anggota Staf Khusus Presiden, Heru Lelono, dan putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bernama Edhie Baskoro (Ibas) mencoba merintis energi alternatif. Namun, tidak berhasil. Bahkan, tokohnya sempat diadili di Yogyakarta. Forum Rektor datang ke Istana, bertemu dengan Presiden SBY. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai energi alternatif. SBY waktu itu meminta Forum Rektor menemukan energi alternatif dan dilaporkan kepada Presiden dalam waktu dua minggu kemudian.
Kemudian, awal 2010, Forum Rektor bertemu dengan Presiden SBY lagi. Kali ini Presiden meminta Forum Rektor mencari format demokrasi yang tepat untuk diterapkan di Indonesia.
Saya belum pernah membaca berita bahwa Forum Rektor sudah memenuhi permintaan Presiden untuk dua hal di atas. Belakangan, saya teringat pada Forum Rektor setelah membaca Pojok Kompas (11/6) yang berbunyi ”Forum Rektor usulkan lima nama calon ketua KPK”, yang dikomentari Mang Usil dengan ”... tanpa maksud memperlama”.
Pertanyaan saya, Forum Rektor itu organisasi profesi yang menangani bidang pendidikan tinggi ataukah organisasi massa atau LSM yang mengurus energi, format demokrasi, dan nama-nama calon ketua KPK?
Tertarik dengan promosinya, saya membuka rekening HSBC Advance pada Februari lalu dengan nomor 007059074806 di HSBC Cabang Semarang. Promosinya: dengan penempatan dana minimal ekuivalen dengan Rp 20 juta, nasabah tak akan terkena biaya bulanan Rp 50.000. Saat itu saya langsung menyetor dana berupa uang kertas euro senilai 3.000 euro.
Permasalahan timbul ketika pada pertengahan Juni lalu saya melakukan pencairan. Saya terkejut bahwa untuk menarik 3.000 euro, nasabah dikenai biaya 38,8 euro atau 1,29 persen dari jumlah yang ditarik.
Ketika saya protes, dengan entengnya kasir mengatakan bahwa itu merupakan sistem yang berlaku di HSBC. Sebagai nasabah, saya kecewa sebab saat membuka rekening, hal itu tak diberitahukan. Apakah ini trik bank agar orang tertarik menempatkan dana dalam mata uang asing, lalu menarik untung saat nasabah menarik dananya?
Pada Minggu (13/6) pukul 9 pagi istri saya menelepon Kidzania untuk menanyakan tiket masuk sesi 1 (09.00-14.00). Jawabnya: habis terjual. Kami tetap memutuskan menuju ke sana untuk membeli tiket sesi 2 (15.00-20.00). Istri saya membeli 3 tiket untuk anak, 2 untuk dewasa, dan 1 untuk anak 1-2 tahun pada pukul 10.40. Lalu, kami berbelanja ke Manggadua.
Sekitar pukul 13.00 istri saya kecopetan. Dompet berisi, antara lain, tiket Kidzania itu hilang. Setelah sibuk menelepon ke sana kemari untuk memblokir kartu-kartu, kami kembali ke Kidzania dan memberi tahu bahwa kami barusan kecopetan. Petugas loket yang tadi melayani kami bilang akan membantu. Namun, dia masih sibuk melayani pembeli tiket. Kami langsung ke layanan pelanggan yang mengatakan ”segera kami urus”, tetapi agak lama karena transaksi harus dicek. Setelah 30 menit kami diberi tahu bahwa tiket kami hangus dan tak ada ganti.
Kami sangat kecewa karena anak-anak kami sedih. Padahal, kami sudah beli tiket yang, menurut bagian IT Kidzania, sudah tercatat dengan debit Mandiri. Pasti ada nomor tiketnya. Tak ada kebijakan Kidzania yang dikenal sebagai sahabat dan tempat terbaik untuk kebahagiaan anak-anak. Kami meminta pihak Kidzania menanggapi dan mengobati kekecewaan kami sebagai pelanggan Kidzania.